342 Page Views
Fara's Homepage
 

Gifts

Awww...I have no gifts.
You can be the first to send me a gift!
Send me a gift now!

Albums

Profile

Basic
    Profile Photos

Journals

Saturday,Mar 17 2007, 11:45:16 AMPULANG

Jam delapan lebih lima belas. Aku membuka mataku setelah beberapa menit yang lalu sudah kubuka namun kututup lagi karena masih ingin aku terlelap dalam letihku.

Aku sudah telat untuk naik bus pertama yang menuju kota kelahiranku. Tidak mengapa karena aku akan tetap pulang dengan bus berikutnya yang berangkat dari terminal pukul sepuluh pagi hari. Aku bercuci muka dan bersikat gigi. Aku tidak mandi. Bukan malas, namun aku takut telat sudah diriku bila harus menghabiskan waktu setengah jam untuk mandi. Dan lagi ini hari Sabtu, banyak warga kotaku yang akan pulang ke tempat asalnya, karena hari Senin adalah Hari Besar Nyepi. Libur bagi yang tidak merayakan.

Jam sembilan lebih sepuluh. Berangkat pula aku menuju terminal di daerah Giwangan dengan berkendara mesin buatan Jepang yang hanya beroda dua itu. Dengan laju 100 km per jam akhirnya. Takut harus menunggu bus berikutnya karena tidak dapat tempat duduk.

Sesampainya aku sampai di terminal super besar itu, aku segera membayar peron masuk dan berjalan cepat sambil memanggul tasku yang berisi barang-barang entah diragukan penting atau tidaknya, karena di dalamnya pun tidak ada baju satu lembar pun.

Beruntung. Aku mendapatkan tempat duduk dari tiga kursi yang masih tersisa. Duduk di sebelahku seorang perempuan cantik. Tersenyum aku padanya ketika mengambil duduk tepat di sebelahnya.

Dua orang beruntung berikutnya masuk dan mengambil tempat duduk, terlihat lega begitu memperoleh pantat mereka menyentuk beludru kursi itu. Mesin yang semenjak tadi sudah menyala pun semakin mengeras menandakan akan segera berangkat. Kondektur sudah masuk. Dalam hitungan menit, bus pun sudah meninggalkan terminal.

Perempuan di sebelahku menutup gorden di sebelahnya yang bertempelan denga kaca. Kepanasan rupanya oleh matahari yang menembus kaca.

Konduktor, panggil saja kernet, mulai meberikan karcis sebagai cara permintaan pembayaran oleh penumpang. Begitu pun aku, aku segera memberikan uang sebesar 55 ribu rupiah dan kernet itu pun memberikan kembalian sebesar 20 ribu rupiah ke tanganku.

Setelah selesai dengan tugas pertamanya dalam perjalanan, dalam dua puluh menit kemudian ia mulai membukakan botol soft drink. Aku memilih botol berisi teh. Kernet itu memberikan setelah tutupnya dia buka dan ditawarkannya aku plastik berisi banyak sedotan, dan aku ambil satu di antaranya.

Aku tidak mengantuk. Aku mengeluarkan buku bacaanku. Sebuah buku tentang seorang nyai yang hebat. Sungguh menarik. Aku membaca. Namun beberapa menit kemudian aku memasukkan kembali buku itu karena mual sudah mulai menyenggolku. Memang aku sesungguhnya tidak bisa membaca di dalam kendaraan. Kendaraan adalah bukan tempat yang tepat untuk membaca.

Aku mencoba menikmati perjalanan yang mungkin memakan waktu empat jam saja bila tidak ada kendala apa pun. TV di depan menyala, terlihat video klip yang tidak sesungguhnya. Ternyata lagu dan video tidak berpasangan. Aku melihat-lihat pemandangan di sebelah kiriku. kebanyakan sawah. Di sebelalah kanan aku hanya bisa melihat gorden biru. Sementara perempuan di sebelahku menyandarkan kepalanya di kaca dan kulihat pula ear phone yang melekat di telinganya. Asik dengan mp3-mp3nya sendiri rupanya.

Kuambil botolku dan kusedot air di dalamnya. Kumasukkan kembali di dalam jaring-jaringnya setelah puas. Lagi-lagi aku tarik buku bacaan yang tadi dan kembali aku meneruskan membaca. Beberapa menit kemudian aku berhenti dan memasukkannya kembali di dalam tas. Begitu seterusnya bila kaku mulai merasa mual karena membaca di dalam bus.

Bus berhenti di sebuah tempat dimana para penumpang sebagian besar turun untuk membuang yang semnjak tadi ingin dikeluarkan alias buang air kecil dan mungkin besar. Aku tidak turun. Tidak pula sebelahku. Biasanya di waktu seperti ini akan berbasa-basi pula. Namun kami tidak. Buatku sendiri pun tak terlalu ada pentingnya. Toh setelah turun pun tidak saling mengenal pun. Tidak ada guna.

Supir kembali menyalakan mesin. Kondektur mengecek penumpang. ROda pun mulai berputar di atas aspal.

Aku kembali berusaha menikmati perjalanan. Sawah-sawah nan hijau, rumah-rumah kecil terlewati. Aku sedikit mengantuk. Aku tertidur sebentar. Sambil kemudian aku terbangun oleh suara tangis anak kecil berusia satu tahun kiranya. Tak berhenti menangis.

Namun beberapa saat kemudian aku mencium bau taik. Taik yang ini berbeda dengan taik lainnya, baunya lebih pada taik seorang anak kecil, yang baunya berbeda dari bau taik orang dewasa. Orang tuanya terlihat panic namun tetap sabar membersihkannya. Anak itu pun tidak menangis lagi.

Aku jadi mengingat saat-saat dulu adikku masih terlalu kecil. Aku membersihkan saat dia buang air besar, mengajari cara membersihkan duburnya setelah dia membuang air besar. Aku jadi tersenyum-senyum. Namun tiba-tiba suara dari belakangku terdengar sungguh mengganggu. Perpaduan bibir, lidah dan air liur, orang di belakangku membunyi-bunyikan suara, seperti suatu ritme. Menarik mungkin pikirnya, sampai dibunyikan keras-keras. Tapi untukku sama sekali tidak, mengganggu ketenangan.

Sesaat suara tersebut berhenti. Kemudian muncul lagi. Begitu seterusnya. Sepertinya dia tidak tahu kalau bunyi-bunyiannya itu mengganggu ketanangan orang lain. Ketenanganku yang sedang membaca dengan konsentrasiku. Mungkin dia seorang yang mempunyai keinginan menjadi musisi, tapi tak punya bakat dan gagal, pikirku jahat.

Melewati Maos, tempat yang selalu kulewati bila pulang. Sering sekali. Namun sepertinya tidak pernah pun aku mampi di daerah ini. Barangkali pernah, tapi bisa saja itu saat aku masih sangat kecil. Ya, sepertinya. Saat menjemput pembantu di rumah. Di Maos, di salah satu desa. Ya, sepertinya pula di desa itu aku sempat berkeliling bersama pembantuku naik motornya.

Kembali aku menikmati jalan, yang di pinggirnya terdapat sawah, rumah-rumah, took-toko, bengkel. Lalu kemudian sawah lagi.

Ah,pertigaan ini. Kalau melewati pertigaan ini, berarti sebentar lagi sampai sudah aku pada kotaku. Melewati sebuah masjid di daerah Selarang. Masjid itu terlihat menutupi suatu tempat yang sekiranya sering aku dengar adalah dimana banyak wanita penghibur dengan harga yang murah.

Sekitar 30 ribu rupiah kata temanku, penduduk asli Selarang yang hijrah ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu.

Kurang dari setengah jam pasti sampai pula ke kotaku. Begitulah, melewati sawah lagi, kemudian pombensin, rumah-rumah besar di seberang jalan. Masuklah sudah kemudian ke kotaku. Kota yang besar oleh perusahaan minyak Negara, semen, dan wisatanya. Melewati PLTU.

Di sebelah kiri aku melihat rawa dan genangan. Lalu kulihat pula di kejauhan sana pemandangan yang menentramkan. Laut. Sempat tertutup sejenak pemandangan tersebut oleh pohon-pohon pisang pinggir jalan yang kami lewati, kemudian terlihat lagi laut.

Gedung besar pun ikut terlihat, Rumah Sakit dengan banyak rumah di dekatnya yang dibatasi oleh tembok besar pada komplek tersebut. Membatasi dengan dunia luar. Setelah itu berbeloklah bus kami ke kanan. Kalau lurus akan membuat kami ke Teluk Penyu. Tapi tujuan kami adalah terminal.

Aku turun dari bus, mengucapkan terima kasih ke supir dan segera ke seberang terminal. Kutelepon kemudian ayahku, memintanya menjemputku. Sudah seperti ratu pula sepertinya aku minta-minta dijemput.

Aku menunggu di depan toko. Jajanan yang dijual di toko itu menggiurkan. Aku memang lapar sekali. Tapi kuurungkan niatku untuk membelinya. Aku takut ayahku bingung mencariku.

Kudapati mobil yang taka sing bagiku. Aku pun segera menghampiri. Ayahku sudah menunggu. Ayahku ternyata baru saja dari Jakarta, tugas dinas katanya.

Memasuki komplek dengan rumah-rumah dinas di dalamnya. Setelah diparkirkan mobil. Aku segera turun. Segera berhambur aku masuk ke dalam rumah. Tidak sabar sudah aku ingin makan setelah meletakkan barang-barangku. Lapar. Udang goreng, tempe, tahu, sayur bayam, dan sambal goreng terasi. Nyammm… Sungguh inilah masakan terenak, hanya ada di rumah ini. Masakan khas ibuku. Tidak sabar aku menyantap dan kupastikan tidak hanya satu piring.

 

Guestbook

Post Comment
Subject:
Body: