<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>

<rss version="2.0"
 xmlns:blogChannel="http://backend.userland.com/blogChannelModule"
>

<channel>
<title>fitrahanugrah&#x27;s Homepage</title>
<link>http://www.zorpia.com/fitrahanugrah</link>
<description></description>
<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 07:27 EDT</pubDate>
<lastBuildDate>Thu, 21 Aug 2008 07:27 EDT</lastBuildDate>
<generator>Zorpia.com</generator>

<item>
<title>Call Divert</title>
<link>http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1825466</link>
<description>Sayup-sayup&#x26;nbsp; lagu Mahadewi terdengar dari MP3 player di HP milik Rido. Dia pun terhanyut dalam lirik-lirik yang dibawakan Padi, &#x3C;em&#x3E;&#x26;quot;Hamparan langit maha sempurna.Bertahta bintang-bintang angkasa.Namun satu bintang yang bersinar teruntai turun menyapaku....&#x26;quot;&#x3C;/em&#x3E;.
Malam itu Rido sambil tiduran di ranjang kamarnya membayangkan wajah
kekasihnya yang jauh di kota seberang. Malam itu Rido sedang menunggu
SMS dari kekasihnya, Ajeng. Kekasih yang baru dikenalnya beberapa bulan
dari sebuah situs pertemanan di internet. Malam itu Rido sangat
merindukan kehadirannya lalu memberinya kata-kata cintanya. Rido
mengingat kata-kata cinta dari kekasihnya yang selau fresh dan membuat
dia terhanyut untuk memberi balasan lebih lanjut.&#x26;quot;Oh Mahadewi sudilah
turun ke bumiku...&#x26;quot;harapnya.&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kling...&#x26;quot; bunyi&#x26;nbsp; SMS masuk
di HPnya. &#x26;quot;Oh dari Ajeng.&#x26;quot; Rido pun membuka pesan inbox. &#x26;quot;Siapa yg td
angkat telpon?&#x26;quot; Kata-kata SMS dari Ajeng terbaca dan dibaca Rido
berulang kali. &#x26;quot;&#x3C;em&#x3E;What&#x27;s up&#x3C;/em&#x3E;! Ada apa ini kok sampai Ajeng menulis SMS seperti ini? Apa ga salah?&#x26;quot;.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kling...&#x26;quot; Belum sempat Rido me-reply SMS itu sebuah SMS dari
Ajeng masuk lagi.&#x26;quot;Siapa perempuan yg memaki aku tadi? kalo mas ga mau
ngaku....jgn pernah berharap aku masih mau kenal kamu!&#x26;quot;.&#x26;quot;Hah...What&#x27;s
wrong? Salah apa aku ini? Oh no. Jangan biarkan ini berlanjut.&#x26;quot; Rido
segera bngkit dari ranjangnya lalu mengambil segelas air putih dan
meminumnya. Setelah ityu diambilnya sebatang rokok mild dan
menyalakannya lalu menghisap dalam-dalam serta mengepulkan asapnya
dengan keras. Dia membaca-baca lagi SMS dari
kekasihnya,mengulang-ulang,memahami setiap kata sambil berfikir kenapa
sampai kekasihnya mengirimkan SMS seperti itu.&#x26;quot;hmmm...gak ada badai,ga
ada mendung,kok tiba-tiba hujan deras? oh...&#x26;quot;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; Segera
Rido menuliskan kata-kata untuk membalas SMS dari kekasihnya. &#x26;quot;Ada apa
dgnmu sayang. Perempuan siapa lagi? Dr td HP masih mas pegang?&#x26;quot;. SMS
balasan pun terkirim ke nomer HP Ajeng. Sedikit lega namun sedikit
penasaran,cemas, dan kuatir, begitu mungkin yang ada dalam benak Rido.
&#x26;quot;Semoga keadaan bisa baik-baik saja&#x26;quot; harapnya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;
&#x26;quot;Kriiiiing...Kring......&#x26;quot; Nada ringtone HP Rido berbunyi segera dia
menghidupkan. &#x26;quot;Halo. Sayang ada apa ini?&#x26;quot; sapanya sekaligus bertanya.&#x26;nbsp;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;quot;Tadi suara siapa Mas?&#x26;quot; tanya Ajeng menyelidiki di speaker HP Rido.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;quot;Suara siapa lagi sayang. Khan ini suaraku sendiri. Emang Ajeng
dengar suara apa?&#x26;quot; jawab Rido dengan sedikit bingung dan heran dengan
pertanyaan Ajeng.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;quot;Haaa...sudahlah kalo ga mau ngaku!&#x26;quot; Ajeng pun langsung menutup HPnya tanpa beri kesempatan Rido menjawab.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;quot;Ajeng...jeng, Ngapain kamu tutup!&#x26;quot;Tapi sia-sia Rido berteriak karena pembicaraan ini sudah ditutup sama Ajeng.&#x26;nbsp; &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; Rido menghempaskan tubuhnya ke ranjang.Suara derit ranjang
kayunya keras terdengar karena beban tubuh Rido yang gemuk. Rido
menghempaskan segala kebingungan, kegelisahan yang mendera hatinya.
Hanya itu cara yang bisa ia lakukan sambil mencari jawab serta menunggu
Ajeng mengirimkan SMS lagi. HPnya ia genggam erat di atas dadanya
sementara matanya menerawang ke langit-langit kamrnya sedang tangan
sebelahnya masih memegang rokok. &#x26;quot;Baru pertama kali aku mendapat
peristiwa seperti ini. Apa yang telah kulakukan? Salah apa aku? dan
wanita yang di HPku siapa? Masak ada setan nyasar? &#x26;quot;pikir Rido.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Tiba-tiba dia teringat setting-an HPnya. Segera dia
mengotak-atik HPnya, melihat setting panggilan di HPnya dan melihat
setting call divert. &#x26;quot;Oh ternyata ini setannya. HPku ku-divert ke no HP
tanteku. Juga tadi khan layanan jaringan operator di HP-ku sempat
hilang? Mungkin sewaktu Ajeng nelpon ke HP-ku setelah ku transfer pulsa
tiba-tiba jaringan di HP-ku yang out of date mati. Terus tentu saja
ter-divert ke HP tanteku dan tentu saja Ajeng cemburu mendengar suara
tanteku. Oh aku menemukan jawabnya&#x26;quot;. Wajah Rido kembali sumringah n
tersenyum. Ia bangun kembali dari ranjangnya dan nelpon ke nomer HP
tantenya, tante Indah.&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;quot;Bulik (jawa : Tante) tadi ada nggak cewek yang ngebel ke HP bulik?&#x26;quot; tanya Rido penasaran.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;quot;Iya...Do. Setengah jam yang lalu ada yang ngebel ke HP-ku tapi
waktu kutanya kok ga ada jawaban dan posisi HP nya ga mati&#x26;quot; jelas
tantenya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;quot;Terus bulik?!&#x26;quot; tanya Rido yang makin penasaran.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;quot;Karena ga jawab juga ya kuomelin aza. Aku bilang, ini orang atau
bukan sih. kalo orang pasti jawab, Kok ga jawab-jawab sih. Ganggu&#x26;nbsp; aza,
gitu omelanku tadi Do&#x26;quot; terang tantenya lebih lanjut.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Bulik tahu nggak yang ngebel bulik tadi tuh pacarku dari kota
seberang. Dia tadi kirim SMS serta ngebel marah-marah ke aku, katanya
ada suara seorang perempuan yang memaki dia di HP-ku&#x26;quot; jelasku
menerangkan tentang keadaan itu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;quot;Aku ya gak tahu kalo itu pacarmu. Wong dia gak perkenalkan diri. Juga salahmu sendiri kenapa pengalihan (&#x3C;em&#x3E;Call Divert&#x3C;/em&#x3E;) mu kamu aktifkan. Syukur...Rasain loh. Salah kamu sendiri&#x26;quot; jawab tante indah sambil tertawa buat mengelak kesalahan dia.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Aduh gimana bulik. Gara-gara bulik aku bisa putus sama
pacarku. Bulik khan tahu sendiri aku baru saja berkenalan sama dia dan
belum sempat ketemuan sama dia. Kok sudah putus gara-gara ini&#x26;quot; jawabku
setengah memarahi tanteku.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Hehehe....lucu kamu sama
pacarmu. Tuh pacarmu ngapain ga jawab pertanyaanku serta kamu ngapain
HP dialihkan ke nomerku...hehehe&#x26;quot; sambut bulikku yangf setengah tertawa
dari balik speakernya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;quot;Namanya juga wanita, bulik.
Tiba-tiba ngebel ke nomer HP lakinya lalu yang menerima seorang wanita
ya tentu saja marah dan cemburu. Apalagi bulik berkata seperti itu
kepada pacarku tentu saja dia tersinggung&#x26;quot; nada bicara Rido mulai turun
dan seperti mau menangis.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ponakanku sayang jangan
nangis ya gara-gara tadi....bilang saja ke pacarmu kalo itu tadi
bulikmu yang juga pingin kenalan sama pacarmu. BIlangin juga bulikmu
minta maaf. Besok pagi kamu main kemari kita ngebel ke HP pacarmu dan
jelasin. Gitu aza sayang&#x26;quot; ga tahan juga ternyata tante indah mendengar
kata-kata dari keponakannya. &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;quot;Ga semudah itu,
bulik...hiks. Dia sudah ngebel dan ngirim SDMS yang mau menyatakan
putus sama aku......hiks. Ya sudah, bulik. Yang terjadi biarlah
terjadi, apa kata nanti saja. HP-nya saya matikan ya bulik. Selamat
malam&#x26;quot; Rido pun mematikan HPnya. Dia pun kembali ke ranjangnya dan
duduk di pinggirnya. Diambilnya segelas air putih di meja samping
ranjangnya dan meminumnya. Lalu dia ambil lagi sebatang rokok dari
bungkusnya kembali ia nyalakan lagi, menghisap dalam-dalam lalu
mengepulkannya ke atas.&#x26;nbsp;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Kembali dia membuka pesan-pesan
dalam HP-nya. &#x26;quot;Aku harus berani menjelaskan siapa perempuan yang
ditanya Ajeng serta meminta maaf atas kesalahanku&#x26;quot;pikir Rido buat
mencari jalan keluar pikirannya yang ruwet. Rido pun mulai menuliskan
pesan-pesan dalam HP-nya buat dikirim ke Ajeng, entah dibaca atau tidak
apalagi di-del...bodoh amat yang penting aku telah menerangkan,
pikirnya pula.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ajeng, sblmnya maafkan aku.Divert di hp
ku kuaktifkan dan terdivert ke no hp tanteku.Perempuan yg td mjwab
panggilanmu adlh tanteku.maafin tanteku ya.td jaringannya jg
error.Ajeng bgaimana bs dimengerti?&#x26;quot; pesan dari hp Rido pun dikirim ke
HP Ajeng.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kling..&#x26;quot; suara SMS masuk dalam HP Rido. &#x26;quot;Ah
sudahlah ribet!Aku ngerasa mkn g kenal kamu.Aku ga akan pernah telpon
ato sms kamu lagi.Terserah kamu mau blg aku.....Aku pernah alami
kejadian sama&#x26;quot; balas ASjeng yang me-reply SMS dari Rido.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Tp itu khan tanteku,bkn cew lain.Dia ga th kalo itu km.km jg ga
ngomong k tanteku kalo km pacarku.Besok aku sm tanteku mau ngebel ke
kamu.Maafku tanteku yg ngomelin km.jg maafkan aku ya sayang.Tak ada
perempuan di hatiku selain kamu&#x26;quot; balas rido dalam SMS yang dikirimkan
ke Ajeng.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Sia-siakamu n tantemu ngebel ke aku.Ga akan
kuangkat aplgi kujwb.Sudahlah jgn ganggu aku lg.Anggap sj aku ga ada n
aku anggap ga kenal kamu.Sorry ganggu kamu?Saya slh sambung.Maaf....&#x26;quot;
balas dia segera. &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Wow semakin hancur hati Rido,
semakin sakit, pedih, dan perih membaca SMS dari kekasihnya. Tubuhnya
dihempas ke ranjang dengan keras lalu menutupi wajahnya dengan bantal.
Dia pingin menangis, dia ga tahu harus bagaimana, kejadian semalam yang
sekilas membuat dia rapuh dan jatuh. &#x26;quot;Haruskah aku menerima kenyataan
pahit yang tak pernah ku alami sebelumnya. Secepat itu aku harus
berpisah dengan Ajeng hanya gara-gara kejadian sepele. Gara-gara aku
aktifkan call divert dan gara-gara jaringan operator mati....oh Tuhan&#x26;quot;
Rido pun merintih merasakan betapa sakitnya perasaan diputus sama
kekasihnya. &#x26;quot;Oh My God. What can i do for it? I&#x27;m lie, i&#x27;m creep, my
heart will go on&#x26;quot; entah apa yang diomongkan Rido. Rido pun memutar MP3
player di HP nya lagu Padi, &#x3C;em&#x3E;&#x26;quot;Aku tak bisa luluhkan hatimu dan aku pun tak bisa raih cintamu........&#x26;quot;.&#x3C;/em&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Malam semakin larut, bulan sepertinya sudah capai bersinar
terang lagi, dan angin malam sepertinya mengabarkan kabar kegelapan.
Malam yang sangat mengiris hati Rido, malam yang sunyi, dan malam yang
membuat Rido bertanya tentang adanya cinta yang tersisa untuknya di
esok hari. Rido pun semakin tenggelam dalam hiruk-pikuk kesedihan
hingga seakan dia tak menemukan jalan kembali, jalan untuk mendapatkan
jawaban, dan pencerahan atas badai yang di alaminya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Dia
pun mengenang saat pertama kali berkenalan dengannya dari sebuah situs
pertemanan di internet. Kemudian berlanjut dengan tukar menukar no HP.
Perkenalan yang tak bertepuk sebelah tangan, dan akhirnya Rido pun
jadian sama Ajeng. Setelah saling curhat, saling mengatakan kelebihan
dan kekurangan masing, setelah mengetahui siapa dirinya masing-masing.
Segala kekurangan pada diri Ajeng diterima oleh Rido dan bukan jadi
hambatan bagi Rido untuk mencintai dan bersama dia. Rido memang seorang
bujangan yang telah lama mendamba cinta dari seorang wanita dan
menginginkan sebuah pernikahan untuk menerjemahkan dari cinta itu. Rido
dan Ajeng pun berharap mereka dapat menikah kelak bila masalah
masing-masing sudah beres.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Kata-kata cinta, sayang,
kangen, rindu dan kata-kata cinta yang lain selalu menghiasi SMS di HP
mereka. Mereka telah di mabuk cinta saat itu dan mereka telah berlayar
terlalu jauh di tengah samudra meski saat itu mereka hanya berhubungan
via HP dan dunia maya. Walaupun hanya lewat dunia maya dan HP.Mereka
pun tak pernah bertemu ataupun kopi darat namun kata-kata dalam pesan
di SMS seolah-olah mereka adalah sepasang &#x27;suami-istri&#x27;. Seorang sopir
angkutan kota yang bertemu dengan aktivis LSM dalam dunia maya,
pertemuan yang tak masuk diakal tapi begitulah adanya, begitu mengalir
hingga menuju samudra cinta yang teramat luas. Terasa begitu indah
cinta mereka hingga terlupakan waktu dan keadaan.&#x26;nbsp;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;
&#x26;quot;Tuhan, Engkau menjadi saksi antara aku dan dia meskipun kami hanya
berhubungan lewat dunia maya. Aku pernah berkata kalau aku cinta sama
dia dan akan menikahi dia kalau memang Engkau berkenan serta berjanji
takkan selingkuh,berkhianat padanya, tak akan meninggalkan dia. Aku pun
bersedia bertanggung jawab buat kehidupan dia, berkorban untuknya, dan
berjanji untuk berikan kebahagiaan lahir batin. Aku pun menerima dia
apa adanya meskipun dia dulunya adalah seorang *****. Tuhan apakh aku
salah? Hingga semua harus berakhir begitu cepat hanya karena sebab yang
sepele saja?&#x26;quot; rintih Rido di tengah malam ketika dia merenungkan
nasibnya yang akan ditinggal Ajeng.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Tuhan maafkan aku
bila aku salah telah meretakkan gelas yang kau beri. Aku hanya manusia
biasa yang kadang khilaf. Tapi Engkaulah Tuhan yang pemberi maaf dan
pemilik cinta kasih.&#x26;nbsp; Bilamana kau beri aku kesempatan lagi untuk
bersama dia, aku akan perbaiki lagi yang telah repat lalu merawat dan
selalu menjaganya hingga saatnya harus kukembalikan lagi padaMu. Bila
memang gelas yang retak dan pecah itu pertanda bahwa aku ga layak
bersama dia, maka berilah aku gelas yang terbaik niscaya aku rawat
kembali gelas itu biar tidak retak seperti gelas yang dulu. Tuhan aku
pasrah dan menerima segala keputusan serta kehendakmu terhadapku&#x26;quot;.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
Malam mulai menunjukkan kepekatannya, sepi hiruk pikuk tetangga kamar
rido sudah tak ada lagi. Tertidur pulas dalam mimpi masing-masing.
Namun Rido dalam kamarnya tak bisa pejamkan mata, teruruk sendiri dalam
kegalauan, kesedihan dan menanti beribu jawaban agar bisa tidur tenang
serta siap menghadapi pagi. Rido mengenggam HP erat-erat seakan-akan
hidupnya hanya bertumpu pada HP-nya itu. Sesekali memandang HP-nya dan
membaca-baca SMS yang masuk.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kling...&#x26;quot; SMS masuk. Rido
terperanjat dan senyum bukan karena bunyi HP itu tapi ternyata Ajeng
mengirimkan SMS. &#x26;quot;Belum tidur juga nih kekasihku. Lalu mengapa dia
kirim SMS kalo dia gak mau lagi kirim pesan atau nelpon. Oh ternyata
dia masih...Ah sudahlah ga usah kupikirin biar masih cinta kek atau
benci. Biar aza HP-ku dihujani beribu SMS darinya&#x26;quot; kata Rido dalam
dirinya. &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Aku mematung sekian saat. lalu airmata ini
tak mampu kucegah. Sakit dan jera kembali teriris. Aku ingin menyesal
mengenalmu. Tapi aku sayang kamu. Kubenci rasa sayang itu. Aku hanya
menyesali diri. Menyesal saat aku nyatakan sayang padamu. Andai aku lbh
tegar dan mampu menahan rasa itu. Maafkan&#x26;quot; sebuah SMS dari Ajeng pun
dibuka dan dibaca oleh Rido dengan seksama. Dia seperti merasakan apa
yang dirasakan oleh Ajeng saat itu. &#x26;quot;Aku tlah bersalah. Aku membuat
kekasihku menangis...hiks. Maafkan aku sayang&#x26;quot;.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Pedih n
perih kucoba kuatkan hati tuk kembali menyayangi seseorang. Ribuan kali
hatiku gamang.Namun kucoba kumenahan.Rupanya diapun tak mau menjaga
hati n jiwa itu&#x26;quot; semakin terpuruk hati Rido semakin terhempas segala
perasaan dan semangatnya. Ingin rasanya Rido berteriak tapi ga enak
sama tetangga kamarnya, dia hanya berteriak dalam hatinya yang sudah
mulai sunyi ketika kekasihnya mau pergi dari hatinya. &#x26;quot;Mengapa ini
harus terjadi. Mengapa kau lakukan ini sayang. Aku masih cinta dan
sayang padamu. Aku tak ingin kau pergi&#x26;quot; teriak Rido dalam kesunyian
hatinya ini.&#x26;nbsp; &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Maafkan. Aku takut. Dan aku ga mau
alami lg yg keduakali&#x26;quot; SMS kedua dari Ajeng muncul di layar HP Rido.
Pedih rasanya hati Rido membaca SMS-SmS dari kekasihnya. Dia merasa
bersalah dan dia gak mau kehilangan kekasihnya. Namun semangat Rido
telah lunglai, semakin terpuruk. Dia mencoba bangkit dari ranjangnya
meraih segelas air di meja samping ranjangnya. Lalu seperti biasa dia
mengambil sebatang rokok mild, dinyalakan, dihisap dalam-dalam lalu ia
mengepulkan. Terasa cepat dia merokok begitulah Rido bila menghadapi
masalah yang sulit terpecahkan...mencari ide,jawaban, dan inspirasi
dalam hisapan rokoknya, pada asap rokok yang melayang-layang di udara&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Memang aku terpisah jarak n keadaan dgn kamu.Dan aku dpt rasakan
hancur n sakitnya ht mu menerima kejadian itu. Wanita yg sdh serahkan
segala cinta n dirinya k pada seorang lelaki kemudian tiba-tiba ada
seorang wanita lain. Tp itu khan hanya tanteku bukan orang lain..kenapa
engkau bisa marah dan emosi bgt? n ini gara2 call divert kuaktifkan
serta gr2 jaringannya mati....Kenapa kau bisa marah, mbenciku, n
menyatakan akan meninggalkan aku&#x26;quot; Tulis Rido dalam pesan balasan kepada
Ajeng.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Aku ga butuh pngertian n penjlsanmu.sdh jelas bagiku&#x26;quot; Ajeng pun membalas SMS dari Rido.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot; &#x26;quot;Maafkan aku&#x26;quot; mungkin itu kt terakhir dariku sblum kau tinggalkan
aku.Cukup kau tahu rasa sayang n cinta d hati ini padamu masih
ada.Meski kau menafikan kini.Smua trserah km.Yg penting sblum kau
pergi, aku tlah mohon maaf padamu.&#x26;quot;Maafkan aku&#x26;quot; itu kata terakhir
dariku di mlm ini&#x26;quot; Rido pun akhirnya memutuskan sesuatu. Dia sudah siap
bilamana malam ini atau esok hari kekasihnya, Ajeng meninggalkan
dirinya.Hingga dengan setengah emosional dia pun mengirimkan SMS kepada
Ajeng, mungkin ini SMS terakhir, pikirnya.&#x3C;br /&#x3E;
&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Sejak mula kukatakan padamu bahwa aku masih dan
semakin rapuh krn banyak hal yg kualami.Tak kusalahkan kamu atas
apapun. Akulah yang salah dan lemah....&#x26;quot; Ajeng pun membalas SMS-nya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Maksudmu. Aku cm ngomong &#x26;quot;Maafkan aku&#x26;quot; itu kt terkhir
dariku.Slanjutnya terserah kamu apakah mau mnerima aku kembali di
hatimu atau membuang aku n aku kembali seperti dulu sebelum mengenalmu&#x26;quot;
Rido semakin bingun dengan jawaban SMS dari ajeng. &#x26;quot;Hmhmhm....apasih
maksud Ajeng?&#x26;quot; pikirnya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Sudah kukatakan aku tak
menyalahkan kamu.Aku hanya tak ingin sakit lagi.Dan sekarang ditambah
lagi mampukah aku hadapi keluarga besarmu.Sebelumnya aku gaga!!&#x26;quot;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Maksudmu apa? aku cuma bilang&#x26;quot;maafkan aku&#x26;quot; kok arahna ke kelga
besarku?&#x26;quot; tanya Rido dalam SMS yang terkirim ke Ajeng. Semakin bingung
saja Rido dibuat dengan SMS dari Ajeng.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Maksudku jk
benar itu tantemu. Aku takkan sanggup menghadapi. Hubunganku dgn
keluarga mantan suamiku saja sgt buruk.Akulah yg mungkin bermasalah&#x26;quot;
jawab Ajeng yang menjelaskan kebingungan pikiran Rido.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Ajeng tanteku yg td ga ada hub darah dgnku n bkn bagian klga bsrku.Dia
kuanggap &#x27;orangtua&#x27; selama aku bekerja n tinggal d kota ini.Aku jg sdh
bercerita ttg kamu pd tanteku sblmnya n dia oke2 sj malah pingin aku
cpt nglamar n nikah dgn kamu.Td mlm dia gak tahu kl yg ngebel km n dia
kesal kok nelon ga dibalas2.Krna kesal dia ngomel n maki2 orang yg
ditelpon itu.Coba kamu jelaskan siapa dirimu n cari siapa?&#x26;quot; kembali
Rido jelaskan lagi duduk persoalan kejadian itukepada Ajeng untuk
kesekian kali buat meluluhkan hati Ajeng.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ajeng
smuanya krn kesalahpahaman sj dan emosi sesaat yg kuasai hati kita.Tak
ada yg salah kamu,aku,n tanteku jg.&#x26;quot;Maafkan aku&#x26;quot; mas brjanji akan non
aktifkan calldivertnya, kurasa dah ganggu mas.Td ibuku ngebel juga
beralih ke telp tanteku n ibuku n tanteku dah ngerti kok kalo itu call
divert. km dah ngerti penjelasan ini? Bgaimana masih mau memaafkan
aku?&#x26;quot; entah kenapa tiba-tiba Rido seperti punya keberanian untuk
jelaskan perkaranya kepada Ajeng. Ajeng pun sepertinya tak bisa
membalas hanya menunggu dan berfikir apa SMS selanjutnya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Ajeng ssungguhnya aku masih cintai n sayang kamu.Aku pun slalu
rindukan kamu n mnerima dirimu apa adanya.Sprti janjiku aku takkan
tinggalkan kamu apalgi selingkuh,mendua,atau berkhianat.Tak ada dlm
pikiran mas. Kamu tahu yg ada dlm fokus hidup mas adlh menikah
dgnmu,memikirkan bgaimana caranya bs menikah dgnmu,hidup bersama n
bhgia sperti yg mas katakan sblmnya. tp skrg kamu mau tinggalkan aku,
putuskan aku n mau buang aku dari hatimu. It&#x27;s ok.semua keptsan
terserah kamu.Kamu brhak putuskan kok&#x26;quot; akhirnya Rido berhasil
mendapatkan kembali kekuatan untuk memberikan sikap kepada Ajeng. Rido
gak mau terlarut-larut dengan keadaan seperti ini apalagi malam
menginjak pagi. Dia pun harus kerja esok harinya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Ajeng kutunggu keputusanmu malam ini atau paling lambat esok hari.
&#x26;quot;Apakah&#x26;nbsp; aku selalu ada dlm hatimu untuk saat ini dan saat selanjutnya?
Apakah engkau masih mecintai, menyayangi, n menerima aku ?&#x26;quot; kutunggu
jwbanmu malam ini n pling lambat esok pagi. Bila kau diam n tak
menjawab berarti kau putuskan tuk tinggalkan aku. Aku pun akan pergi dr
mu biarlah aku cari hati yg lain.Aku akan lupakan kamu,hapus ingatan
ttgmu dr pikiranmu,anggap aku tak ada n aku anggap kamu jg tak ada.ok
kutunggu jawabanmu&#x26;quot; SMS terakhir dari Rido mungkin karena dia sudah
mulai lelah buat memikirkan kejadian ini. Rido hanya ingin keputusan
pasti dari Ajeng. &#x26;quot;Yang terjadi biarlah terjadi dan esok aku harus
kerja lagi&#x26;quot; kata Rido dalam hati lalu dia pun mencoba untuk pejamkan
mata dan tidur, namun dia masih hidupkan HP-nya sambil di-charge.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kling...&#x26;quot; SMS dari Ajeng masuk dan dengan setengah mata terpejam Rido membaca SMS itu. &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Iya&#x26;quot; Ajeng hanya menuliskan pesan teramat pendek untuk menjawab
pertanyaan Rido.rido seakan ga percaya lalu membuka keduamatanya dan
tersenyum bahagia.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Terima kasih kau telah membuat
keputusan.Dan keputusan ini kupegang terus. Skr dah malam kita tidur
ya..esok hari kita berbuat yg lebih baik dr hr ini.Selamat malam&#x26;quot; Rido
me-reply SMS dari Ajeng dengan perasaan berbunga-bunga.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Selamat malam. Aku kangen cintamu...&#x26;quot; ternyata Ajeng juga membalas SMS
dari Rido. Tapi Rido sudah tertidur dalam mimpinya. Mungkin bermimpi
bersama Ajeng di tempat terindah.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; *************************************&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
Satu tahun kemudian di dalam sebuah rumah di pinggiran kota B.
&#x26;quot;Kling...&#x26;quot; sebuah SMS mengagetkan pasangan suami-istri yang sedang
bercinta dalam sebuah kamar.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Pa ada SMS masuk dibaca dulu&#x26;quot; kata istrinya yang bangun dan benahi dirinya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Iya Ma&#x26;quot; kata suaminya yang sebetulnya gak kesal juga ketika hasrat
cintanya sedang tinggi tiba-tiba diganggu oleh SMS yang masuk dalam
HP-nya. Dia pun bangkit dari ranjangnya dan menuju meja tempat HP itu
tergeletak. Lalu membuka pesan masuk tersebut dan membacanya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Rido, kamu nih orangnya suka ngasih nomer teleponnya ke teman-temanmu
tanpa konfirm ke aku ya? aku sangat kecewa dan sangat terganggu karena
teman-temanmu yg menghubungi aku sangat tidak sopan dan
m,enggangguku.Tolong jangan lagi kamu kasih no hpku ke teman-temanmu yg
ga bener itu.maaf jika kata-kataku kurang berkenan.Thx&#x26;quot; Sri, teman lama
Rido tiba-tiba mengirimkan SMS di malam itu. &#x26;quot;Hmhmhm....ngapain sih
anak itu.ganggu orang saja&#x26;quot; ikir Rido dalam hatinya. Lalu dia pun
berikan reply atas sms itu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Mana kutahu no tmnku yg mn?
Maaf kl aku salah. aku ga ngasih no telp km k tmn2ku trus knpa km nuduh
aku? dah deh di-del aza no ku n no telp yg gangguin km.Good night i&#x27;ll
ml with my wife hehehe....bye...&#x26;quot; Rido membalas SMS dari Sri sekalian
me-off kan hp-nya. Lalu kembali dia ke ranjang dimana istinya sudah
menunggu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Siapa pa? ada apa kok kelihatan kesal?&#x26;quot; tanya Ajeng, istri Rido dgn penasaran.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Ga pa-pa kok ma. Tuh si Sri, mantan pacarku dulu sewaktu kuliah
gangguin aza, fotonya ada profileku di situs***.Mama dah lihat khan?
mungkin dia ngiri kali sama aku yang udah nikah. Rasain sekarang dah
jadi prawan tua&#x26;quot; jawab Rido sambil tangannya merengkuh dan memeluk
tubuh istrinya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kasihan ya pa si Sri. tapi papa lucu
juga kok ada yang masih perawan, cantik, dan kaya kok milih aku&#x26;quot; jawab
istrinya yang juga memeluk suaminya dan merapatkan tubuhnya.Serta
merasakan tangan suaminya yang mulai nakal dan berkeliaran ke tubuh
sensitifnya lalu mengusap-usap dan mengelusnya.&#x3C;br /&#x3E;
&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Istriku aku cinta kamu&#x26;quot; tanpa ada basa basi sang
suami pun mencium bibir istrinya dasn istrinya juga menyambutnya.
Mereka bergeliat, mereka tenggelam dalam samudra malam yang seakan tak
berakhir...&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Bksi, 01 agustus 2008&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;tulisan SMS ini berdasarkan kejadian nyata yang dialami penulis namun ada yg dirubah dikit buat dukung cerita.&#x3C;br /&#x3E;
sedang nama n kejadian dlm cerita ini fiktif belaka.&#x3C;br /&#x3E;
&#x26;nbsp; &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x3C;br /&#x3E;
&#x26;nbsp; &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x3C;br /&#x3E;
&#x26;nbsp; &#x3C;/p&#x3E;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp; 
</description>
<category>Romance &#x26; Relationships</category>
<guid isPermaLink="true">http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1825466</guid>
<pubDate>Sun, 03 Aug 2008 03:08 EDT</pubDate>
</item>

<item>
<title>Perempuanku</title>
<link>http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1823662</link>
<description>&#x3C;p&#x3E;&#x3C;strong&#x3E;Pagi itu&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;Yang tersaji di meja makanku&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;potongan kepala ikan beserta tulang,&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;diselingi nasi yang hampir jadi kerak&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;Sambil dengarkan engkau berkata tentang&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;cinta yang hilang di pagi hari.&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;Oh ludahmu banjiri piring makan ku,&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;caci makimu bikin aku kenyang.&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;Pagi itu seekor kucing kirim aku&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;sepotong kepala ikan di meja makan&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;Pagi itu beras di dapur habis tercuri tikustikus&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;Pagi itu kau menunggu cintamu pulang&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;depan pagar rumah&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;Bekasi, 27 juli 2008&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Lingkaran&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Berlari dalam lingkaranmu&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;mencari pintu keluar dari ganasmu&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;fahami setiap tanda yang ada&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;namun engkau cakar semangat ini&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;kuliti jiwa hingga telanjang tak berjiwa.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;semakin terpenjara,semakin kabur tujuan&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;aku tubuh tak berjiwa dalam lingkaranMu&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p style=&#x22;text-align: center;&#x22;&#x3E;Bekasi 27 juli 2008&#x3C;a mce_href=&#x22;http://trageditalikutang.wordpress.com/files/2008/07/silhuoute.jpeg&#x22; href=&#x22;http://trageditalikutang.wordpress.com/files/2008/07/silhuoute.jpeg&#x22;&#x3E;&#x3C;img width=&#x22;120&#x22; height=&#x22;153&#x22; class=&#x22;size-full wp-image-4 aligncenter&#x22; title=&#x22;silhuoute&#x22; mce_src=&#x22;http://trageditalikutang.wordpress.com/files/2008/07/silhuoute.jpeg&#x22; src=&#x22;http://trageditalikutang.wordpress.com/files/2008/07/silhuoute.jpeg&#x22; /&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;strong&#x3E;kotamu&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;saat kumasuki kotamu&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;panas menerjang wajah dan pelukmu katakan tentang sakit&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;yang kau alami bertahun-tahun. tentang dia yang mencuri&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;permata di kotamu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Lalu kujelajahi s&#x27;luruh daerahmu. &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;quot;Masih adakah air tersisa untukku ? Bila setiap&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;penjelajah yang mampir tlah habiskan persediaan&#x26;quot;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;dan tubuhku ternyata telah basah oleh hirukpikuk gerakmu&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;aku semakin kering..kepanasan....menggelepar-gelepar..&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;dan aku lumpuh....mengejang.Sementara matamu nanar ingin melahapku&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;em&#x3E;aku serupa ikan yang tertangkap olehmu lalu mati di pembakaran&#x3C;/em&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Bekasi 25 juli 2008&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;strong&#x3E;Perempuanku&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Perempuanku, ku suka gayamu&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;lenggaklenggok buka birahi yang tertutup.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;harum tubuh bungkam akal sehat&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;dan ku mau raih cahya wajahmu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Hey perempuanku ku ingat dongeng purba&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;saat bapakku diasingkan ke pulau sepi&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;karena kau. Lalu darah tertumpah di sana&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;membanjiri kesepian, dan pertempuran demi pertempuran&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;tercipta karena kau.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Perempuanku, aku&#x26;nbsp; berdiam dalam ruang kaca&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;hanya pandangmu dan cukup pandangmu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Maafkan aku biarkan kau tertikam rindu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Bekasi 26 juli 2008&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;
</description>
<category>Photography &#x26; Art</category>
<guid isPermaLink="true">http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1823662</guid>
<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 04:02 EDT</pubDate>
</item>

<item>
<title>NIKAH JALANAN</title>
<link>http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1818284</link>
<description>&#x3C;p&#x3E;&#x3C;strong&#x3E;Berjodoh Kekeringan&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Kunikahi alangalang kering dan debu setubuhi aku pada setiap erangan&#x3C;br /&#x3E;
Diri terlempar setiap angin mengayunkan kerinduan, menghujamkan beribu
dendam. hingga terkubur dalam kubang yang sudah disiapkan di akhir
jalanku&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;em&#x3E;Bekasi, 01 juli 2008&#x3C;/em&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;strong&#x3E;Nikah Jalanan&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Denyut rindu ini berpacu lewati jalan macet dan bising kota membuat kuingin menumpahkan seluruh nafsuku pada bibir indahmu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Kurasa
mata ini semakin silau pada panas aspal dan kacakaca gedung lalu kepala
semakin meradang,memusing,dan aku hanya bisa mengerang atas rasa sakit
yang telah kau beri.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Oh aku telah basah...Telah kumuncratkan
sejuta rasa ini,membanjiri jalanan kota yang semakin sempit.Meleleh
perlahan entah lenyap kemana?&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Namun kudengar engkau mengucapkan terima kasih atas hadirku di kotamu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;em&#x3E;Bekasi, 1 juli 2008 &#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/em&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;
</description>
<category>Photography &#x26; Art</category>
<guid isPermaLink="true">http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1818284</guid>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 11:12 EDT</pubDate>
</item>

<item>
<title>Aku Kangen Kamu Sayang</title>
<link>http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1817061</link>
<description>&#x3C;h3 style=&#x22;background-color: rgb(255, 255, 255); color: rgb(0, 0, 0);&#x22;&#x3E;Andai semua bisa berubah.&#x3C;/h3&#x3E;

&#x3C;h3 style=&#x22;background-color: rgb(255, 255, 255); color: rgb(0, 0, 0);&#x22;&#x3E; Andai Semua sesuai inginku.&#x3C;/h3&#x3E;

&#x3C;h3 style=&#x22;background-color: rgb(255, 255, 255); color: rgb(0, 0, 0);&#x22;&#x3E; Andai aku bisa kendalikan hidupku.&#x3C;/h3&#x3E;

&#x3C;h3 style=&#x22;background-color: rgb(255, 255, 255); color: rgb(0, 0, 0);&#x22;&#x3E; Andai masalahku bisa kuselesaikan. &#x3C;br /&#x3E;
&#x3C;/h3&#x3E;

&#x3C;h3 style=&#x22;background-color: rgb(255, 255, 255); color: rgb(0, 0, 0);&#x22;&#x3E;Aku akan lari dan peluk dirimu&#x3C;/h3&#x3E;

&#x3C;br /&#x3E;

&#x3C;p&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;5&#x22;&#x3E;Kurebahkan kepala di pelukmu,peluk erat aku,cium
mesra bibirku, elus diriku dengan hangatnya telapak tanganmu. Hangatkan
tubuhku, hangatkan jiwaku.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;

&#x3C;p&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;5&#x22;&#x3E;Oh Kekasih, nikmat terasa tanganku yang dingin meraba
panasnya tubuh telanjangmu. Kaupun menjelajah dan mengusap dadaku
dengan telapak tanganmu membawa desir rindu.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;

&#x3C;p&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;5&#x22;&#x3E;Deru panasmu semakin menantangku,kugerakkan pinggulku
semakin merapat tubuhmu yang telanjang, aku&#x26;nbsp; melayang, mas lepaskan
juga selembar kain yang sempat menutupiku.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;

&#x3C;p&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;5&#x22;&#x3E;Aku tak lagi mampu menolak, belaianmu membuatku
semakin berani. Aku berlutut dihadapmu. Kucium mesra bagian dirimu itu.
Mas terkejut menerima itu..Mas suka?&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;

&#x3C;p&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;5&#x22;&#x3E;Anggukanmu menjadi isyaratku mempersembahkan sejuta
nikmat. Kuminta mas duduk dan mulai menjilat, mengecup, menghisap,
mengigigit gemas.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;

&#x3C;p&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;5&#x22;&#x3E;Lalu mas mengangkatku ke pangkuanmu,menghujamkan
dirimu yang basah karena ciumanku kedalam hangatnya diriku. Aku
menjerit tertahan di dekap eratmu.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;

&#x3C;p&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;5&#x22;&#x3E;Mas rebah di pembaringan dan kau dekap aku di dada.
Kau ciumi diriku dengan mesra. Kau izinkan akulelap dalam lelah yang
indah...jangan lepaskan aku mas...&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;

&#x3C;p&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;5&#x22;&#x3E;Eeeenh...aku ngantuk...,sun sayang dari kekasihmu...Emmuahhh....&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;

&#x3C;p&#x3E;&#x3C;span style=&#x22;text-decoration: underline;&#x22;&#x3E;Bandung 30 juli 2008&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;
</description>
<category>Romance &#x26; Relationships</category>
<guid isPermaLink="true">http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1817061</guid>
<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 11:44 EDT</pubDate>
</item>

<item>
<title>IKAN</title>
<link>http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1805178</link>
<description>
Diam

Bila angin tak bertiup
mengering jiwa
gugur harapan
tak bisa berucap
menunggu takdir
melepuh di hamparan
dan langit hanya diam

Sepintas pandang langit
menghitung hujan yang pernah keluar
dan maaf aku tak bisa mengingatnya
karena tak ada lagi angin yang bertiup.

Bekasi, 20 april 2008

ODE BUAT PEKERJA

panas surya mecah pandangan
tapi tak cukup kaburkan wajah anak istri
keras laju motor beradu bising angkutan
tapi deru perut yang lapar yang tak pernah diam

lalu diri tercebur dalam pabrik-pabrik
membakar raga dan perasaan hangus
terpanggang bagai ikan di panggangan
hingga matang, hingga para bos berebut
yang telah matang

jiwa ini telah lunglai, badan ini sudah loyo
berharap anak+istri datang membelai,
lepaskan kelelahan, basuhi kekeringan,
Oh...hidup telah mulai lagi
Dan tuhan sudah mulai tertawa

Bekasi 30 april 2008

Pengharapan

Seluruh gerak sudah kupersembahkan,
seluruh keringat terkuras habis,
mengapa engkau masih diam?
Lalu airmata kutumpahkan,
Liris pengharapan di bawah kakimu,
tapi engkau masih angkuh,
hingga kutinggalkan ragaku untukmu
biar menjadi patung di hadapanmu
dan nyawa kubiarkan gentayangan
meninggalkan engkau.

Bekasi 30 april 2008

Badai

Semakin jauh berlayar
menjauh dari pantai yang tak menerimaku
angin menderukan kabar tentang badai
oh terbayang betapa indahnya bila badai menerjang
aku akan menarikan tarian laut pada sela-sela ganasnya
nyanyikan lagu cinta untuk angin yang melayangkan jiwa
hingga ekstase dan tenggelam dalam ketenangan
lalu temukan tempat damai di kedalaman
berteman mutiara-mutiara mengelilingi tubuh
aku pun menjadi raja di lautan

bekasi 01 mei 2008


Kamar Mandi

dalam diriku masih tertinggal darahmu
bau nafasmu yang selalu terkenang
menyusur kemana aku melangkah
sudah berapa sabun habis terpakai?

kata-kata kotormu masih menempel
mengacuhkanmu hanya sia-sia
karena bayang wajahmu penuhi langit otak ini
berapa lama ingatanku tentangmu bisa lepas?

lalu aku benamkan ceritamu dalam kakus
hingga penghabisan
hingga kau tak panggil lagi namaku
hingga kau menemukan tempat buat kembali

Bekasi, 02 mei 2008
</description>
<category>Photography &#x26; Art</category>
<guid isPermaLink="true">http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1805178</guid>
<pubDate>Mon, 19 May 2008 08:30 EDT</pubDate>
</item>

<item>
<title>Suatu Hari</title>
<link>http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1791059</link>
<description>&#x3C;strong&#x3E;IKAN&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Masih kurasa bekas-bekas ciumanmu&#x3C;br /&#x3E; merasa manis, getarkan sukma dan jiwa hanyut&#x3C;br /&#x3E; ikuti aliran kemauanmu. kau ajak aku ke pantaimu&#x3C;br /&#x3E; Kata-katamu tawarkan keindahan. lebur aku dalam dekapmu&#x3C;br /&#x3E; begitu jauh terbawa pada jalanmu. aku terpenjara dalam rumahmu&#x3C;br /&#x3E; a ini sudah tak berarti.&#x3C;br /&#x3E; seperti ikan menggelepar tertangkap nelayan&#x3C;br /&#x3E; Semangat lunglai, melepas airmata namun mengering&#x3C;br /&#x3E; matahari, bulan tak peduli dan kau pun tak akan datang&#x3C;br /&#x3E; lalu cinta kan berkeliaran mencari makna sendiri&#x3C;br /&#x3E; dalam kegelapan samudra.&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; bekasi, 03 april 2008&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;strong&#x3E;Pada Keremangan Senja&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Pada keremangan senja&#x3C;br /&#x3E; Tak kulihat bayangmu datang&#x3C;br /&#x3E; Tertutup pekat debu jalanan&#x3C;br /&#x3E; Laju angin menidurkan mata&#x3C;br /&#x3E; kurasa aku tak kan bertemu kamu.&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Kutemui api di batas waktu&#x3C;br /&#x3E; Rasakan panas nusuk mata&#x3C;br /&#x3E; Tapi engkau hilang di balik api.&#x3C;br /&#x3E; Bara membakar semua ingatan&#x3C;br /&#x3E; Mengharapmu hanya kesia-siaan&#x3C;br /&#x3E; Dan aku menunggu api padam&#x3C;br /&#x3E; Melihat engkau menjadi debu&#x3C;br /&#x3E; Lalu hilang terendam hujan&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Bekasi, 04-03-2008&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;strong&#x3E;Suatu Hari&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Suatu hari aku bertemu engkau&#x3C;br /&#x3E; lalu kau hunuskan pedang cinta&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; merobek jiwaku lalu kau ambil hati&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; yang tetap membatu.&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; mencucinya dengan tajam lidahmu&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; dan aku menerima pembalasanmu,&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; meresapi setiap penyiksaan,&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; lalu kutemukan darah kleleran di jalanan&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; jejak ini akan abadi.&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; sebuah mawar kan tumbuh&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; atas tanah yang basah.&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Mungkin mawar itu kelak bercerita&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; tentang sebuah pertemuan&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; lalu mawar itu pun layu&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; setelah tuntaskan tugasnya&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Bekasi 05/04/2008&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;strong&#x3E;Terminal Pulo Gadung&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Terik panasmu beradu keras aspal jalan&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Bising suara memacu gairah berlari-lari&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Mencari tumpangan&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Aku segera menemuimu dalam rasa pahit hidup&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Pikiran menghitam, tubuh ini terpenuhi bau keringat&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Panas semakin ingin temuimu. cahaya dingin bersembunyi&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; dalam rumah tua.&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Namun terasa tak ada pertemuan pun tak ada pertanyaan lagi&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Aku semakin tersesat dari tujuan, bayangmu menjauh. cerita lalu&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; terbawa angin hilang di kepanasan. &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Namun aku semakin terbakar, melepuh semua angan&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; jiwa ini semakin hangus, lalu menjadi abu, lalu angin porak porandakan&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; hingga ku hanya mengikuti pusarannya. Oh Jiwa dimana kau pergi?&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Bekasi 04/004/2008&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;strong&#x3E;Tahukah Engkau&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Tahukah engkau bila aku berdiam di rumah tak kuharapkan&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Berteman dengan ular, kecoa, tikus, kucing, nyamuk, dan hantu&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Tahukah engkau tentang hujan yang menepikan aku dalam rumah kosong&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Menunggu selesai, namun aku terjebak dalam deras hingga tenggelam dalam  fantasi adanya engkau dalam kekosongan.&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Tahukah engkau 2 orang besar datang membakar rumahmu&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Aku ikut terbakar bersama teman-temanku saat aku lelap di pelukan ular&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Dan engkau hanya memandang hingga habis dan aku tak ada lagi.&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Bekasi 03/04/2008&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;strong&#x3E;Bulan Tertutup Awan&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Bulan tertutup awan&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Pada malam selimuti kesadaran&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; dan kanakkanak yang gelisah,&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; tak akan ada dolanan.&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; bersembunyi takut kuntilanak datang&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; Malam ini aku terus mencarimu&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; di balik kegelapan menunggu engkau pulang&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; lirih sebut namamu tapi tertelan sepoi angin&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; aku terpuruk dalam gelap dan prasangka&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; hingga tersadar engkau telah hilang&#x3C;br /&#x3E; &#x3C;br /&#x3E; tertelan kabut malam.&#x3C;br /&#x3E; 
</description>
<category>Photography &#x26; Art</category>
<guid isPermaLink="true">http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1791059</guid>
<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 04:34 EDT</pubDate>
</item>

<item>
<title>GOD LOVE SUPRI</title>
<link>http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1788275</link>
<description>&#x3C;strong&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; P&#x3C;/strong&#x3E;erubahan terjadi pada Supri. Supri yang dikenal
teman-temannya bergaya kampungan, ndeso, norak, dan orangnya super cuek
dengan penampilan mendadak menjadi orang yang jaim (jaga imej), mul;ai
berdandan, penampilan rapi, dandy, menjadi bergaya masyarakat urban.
Tiap pulang kerja selalu sempatkan mampir ke mall buat lihat
model-model baju terbaru, kadangkala memandang penanmpilan setiap anak
muda yang berjalan-jalan di sekitar mall, ya kadang orang merasa risih
sih dipandangin Supri yang seperti hendak melakukan sesuatu yang kurang
baik terhadapnya, tapi Supri tak peduli dengan omongan setiap orang
apalagi teman-temannya tentang perubahan yang terjadi pada dirinya.
Supri ingin kelihatan menarik di hadapan Linda. Supri ingin mengimbangi
gaya hidup Linda, anak kaota dan anak orang kaya. Supri ingin meraih
simpati dan cinta dari Linda dengan perubahan dari dirinya. Dia pun
rela melakukan segalanya yang penting keinginannya tercapai.&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Elo kalau ingin jalan sama gue, kalo ingin dampingin
gue kemana gue pergi. Elo harus rubah penampilan elo yang katrok,
kampungan, dan ndeso. Bukannya gak suka dengan penampilan elo, tapi gak
enak gue kalo jalan sama elo terus teman-teman gue nglihat dan dibilang
, ini pembantumu atau sopirmu Lin? terus gue jawab apa? padahal elo
khan teman gue bukan pembantu atau sopir gue. Tar gue akan ngajarin dan
dandanin elo biar kelihatan kayak anak kota.&#x26;quot; tegas Linda&#x26;nbsp; saat diajak
Supri nonton di sebuah cineplex yang telah lama Supri ingin menonton di
sana. &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Mereka akhirnya jadi juga buat bepergian
bersama.&#x26;nbsp; Supri datang ke rumah Linda dan mereka bepergian dengan
memakai&#x26;nbsp; mobil APV milik Linda namun Supri yang menyetirnya. Mereka
datang ke sebuah mall yang cukup terkenal di kota itu namun mereka
tidak nonton. Linda mengajak Supri ke sebuah toko busana dan Linda pun
memilihkan Supri busana yang ngetrend. Linda pun membayar segala harga
busana tadi.&#x26;nbsp; Linda tahu berapa gaji seorang Supri dan tentu gaji Supri
tak cukup buat membayar baju-baju yang telah dibelikan Linda. Setelah
membeli beberapa pakaian buat Supri, Linda mengajak Supri ke sebuah
salon milik penata rambut yang terkenal. Linda ingin Supri memotong dan
merubah gaya rambutnya yang kelihatan agak &#x26;quot;jadul&#x26;quot;. Linda benar-benar
ingin Supri berubah bahkan Linda memberikan beberapa majalah gaya hidup
dan CD-CD lagu sekarang yang hits.&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x3C;br /&#x3E;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Supri kalau kamu ingin
mendapatkan Linda. Kamu harus berubah. Kamu harus bisa mengimbangin
gaya hidup Linda dalam hal apa saja. Ingat dalam hal apa saja! Kamu
cukup beruntung bisa berkenalan dengan Linda, anak seorang kaya dan
cantik. Hidupmu akan berubah bila kamu berhasil menikahinya.&#x26;nbsp; Kamu tak
akan lagi menjadi sopir seperti sekarang ini, kamu dihina, diolokin
banyak orang. Sekarang kamu harus berjuang untuk bisa mendapatkan Linda
hingga berhasil menikahinya&#x26;quot; kata Yanto dalam percakapan lewat HP.&#x26;nbsp;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Supri semenjak mengenal Linda dia pun berusaha untuk bisa membeli
sebuah HP terbaru yang ada kamera dan MP3 nya. Supri ingin
berkomunikasi dengan Linda selalu baik lewat sms atau obrolan. meskipun
dia harus ngebon ke bosnya untuk bisa beli HP yang melebihi gaj
bulanannya. &#x26;quot;Dengan punya HP hubunganku dengan Linda akan semakin
dekat. Dimanapun aku berada aku bisa hubungin dia bila kangen. Biar
harus berhutang, biar harganya mahal yang penting bisa dekat dengan
Linda. Siapa tahu ada keberuntungan ketika aku punya HP&#x26;quot; pikir Supri
yang membenarkan dirinya ketika mau berhutang ke bosnya untuk beli HP.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Dengan HP Supri bisa menghubungi tean-teman lamanya di kampung
yang sudah bekerja dan bertempat tinggal di kota.&#x26;nbsp; Salah satu teman
dekat Supri adalah Yanto, temannya semasa sekolah dulu. Yanto yang
terkenal pandai mendapatkan wanita di sekolahnya. Yanto yang dulu
selalu berganti-ganti pasangan. Yanto yang sekarang sudah menikah
dengan salah seorang artis ibukota yang ternyata anak dari seorang
pengusaha.&#x26;nbsp; akhirnya hidup Yanto pun berubah dan akhirnya dia pun bisa
sukses. Supri ingin mengikuti jejaknya agar dia bisa berhasil hidup di
kota.&#x26;nbsp; Yanto memang beruntung dengan bakat alamiah, wajah ganteng,
badan bagus, dan kemampuannya berkata-kata yang bisa memikat perempuan.
Sedang Supri. Oh No???&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Tapi ngapain ngiri sama si
Yanto? biar aza memang dia begitu adanya. Yang penting aku harus
berubah seperti nasehat Yanto orang yang punya pengalaman, lalu aku
akan mendapatkan Linda&#x26;quot; demikian pikir Supri sambil menutup HPnya
setelah berbicara dengan Yanto.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Supri telah
berubah. Dia kini menjadi orang yang romantis. Sekarang dia senang
memutar lagu-lagu cinta entah dangdut atau pop, entah lagu nostalgia
atau lagu anak muda jaman sekarang. Yang penting baginya hatinya bisa
tenang, angannya bisa melayang dan terbuai ke sosok Linda, dan dia jadi
lebih semangat untuk mendekati Linda. Supri pun kadang menyetel
laghu-lagu dari koleksi lamanya atau CD yang diberi Linda dalam
radio/tape mobil yang dibawanya. Supri sangat menikmati suasana orang&#x26;nbsp;
orang cinta seperti yang pernah diceritakan dan dialami oleh
teman-temannya. Cinta yang membuat orang menjadi berubah, menjadi
berfantasi, dan melupakan dirinya. Cinta yang menjadi buta dan gelap. &#x26;quot;&#x3C;em&#x3E;Antara
kita pertama berkenalan. &#x27;tuk dapat membagi rasa saling cinta. Antara
kita saling percaya diri. Yang seharusnya kita memiliki&#x3C;/em&#x3E;...&#x26;quot; begitulah penggalan lagu &#x26;quot;Antara Kita&#x26;quot; Fariz RM yang waktu itu ia dengar dari koleksi lagu lamanya.&#x3C;br /&#x3E;
&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kamu sudah berubah Pri?&#x26;quot; tanya Simatupang,
seorang satpam di perusahaan tempatnya ia bekerja. Simatupang mengawasi
gerak-gerik Supri yang seperti orang bengong duduk menyendiri dalam
mobil kirimannya sambil mendengarkan lagu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Oh
bang Simatupang. Maaf bang, sambil menunggu surat jalan keluar saya
duduk dalam mobil mendengarkan musik. Nggak ganggu khan? &#x26;quot; jawab Supri
sedikit gugup dan membetulkan posisi duduknya yang selonjoran dalam
mobil.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;gak ada masalah kok. Cuma kok kamu ada
perubahan, kamu yang dulu paling tidak suka dengerin musik, lagu dari
radio/tape mobil paling dengerin berita kini kok mulai senang dengerin
lagu. Kamu sedang jatuh cinta ya? Tapi bagus itu. Kamu sudah gede,
wajar kalau jatuh cinta sama wanita. Orang-orang di sini juga ngerti
kamu sedang jatuh cinta. Mereka senang berarti kamu berubah, lihat
semuanya jadi berubah dari diri kamu....hehehe&#x26;quot; kata Simatupang sambil
tersenyum dan menghisap Dji Sam Soe-nya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Tapi kamu
kalau jatuh cinta jangan kayak orang bego, kamu harus selalu ceria,
semangat. Hidup ini bukan buat cinta tapi cinta buat hidup. Lihat aku
ini meskipun sudah punya istri, tapi aku senang jatuh cinta lagi.
hahaha....&#x26;quot; lanjut bang Simatupang yang memang terkenal orang yang
doyan wanita meskipun sudah punya istri tapi kadang suka berselingkuh
dengan beberapa wanita diantaranya karyawati sebuah pabrik.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ya bener Bang. Supri nggak berubah masih seperti dulu, cuma
sedikit menghibur diri sambil menunggu surat jalan keluar. Itu si Roni
mau ke sini bawa surat jalan&#x26;quot; jawab Supri sambil bersiap-siap
menghidupkan mobil kirimannya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Oke Supri. Kamu
kalau perlu bantuan dan ada masalah dengan cinta jangan segan datang ke
abang nanti saya bantu kamu. Saya ini orang yang punya pengalaman dalam
cinta, kamu harus belajar dari aku&#x26;quot; kata Simatupang sambil berjalan
memenjauhi Supri setelah Supri menjalankan mobil kirimannya. Supri
hanya tersenyum dan melambaikan tanggannya. &#x26;quot;Bang Simatupang. ada-ada
saja. wong hubunganku dengan Linda baru tahap pendekatan kok sudah
berbicara yang aneh-aneh&#x26;quot; kata Supri dalam hati sambil mengemudikan
mobilnya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Supri berencana sore itu setelah
mengantarkan mobil kirimannya dia kan mampir ke sebuah toko buku
loakan. Supri akan mencari beberapa buku kumpulan puisi atau novel
tentang cinta. Tak lupa dia akan membeli beberapa buku komputer, dia
akan belajar internet dan dia akan membuat blog tulisan tentang
ekspresi cintanya ke Linda. Membuat tulisan sebagaimana yang dikerjakan
para penulis-penulis yang ingin mengekspresikan cintanya kepada
kekasihnya. Supri berencana membuat judul untuk blog tulisannya dengan
judul &#x26;quot;Tuhan Mencintai Supri&#x26;quot;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Sebetulnya telah lama
Supri tak mnulis dan tak berhubungan dengan komputer apalagi internet.
Kehidupannya sebagai sopir yang bekerja dengan setir mobil dan pedal
serta rem mobil membuatnya dia melaupakan sesuatu yang pernah ia
lakukan dulu sebelum bekerja di kota.&#x26;nbsp; Di kampungnya dulu Supri
seringkali menulis beberapa artikel tentang keagamaan di tabloid agama
di masjid kampungnya, dan Supri sering kali mengirim beberapa puisi dan
cerpen ke koran meski seringkali tidak dimuat di koran tapi dari
teman-temannya yang melihat tulisannya mengatakan bagus.&#x26;nbsp; &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Supri memang menjauhkan diri dari dari dunia
tulis-menulis dan internet ketika bekerja di kota. Pikirnya menulis
puisi, cerpen, dan artikel hanya membuang-buang waktu saja, membuat dia
terbuai, berfantasi, dan mengatakan apa-apa yang seharusnya tidak ada
dan tidak dikerjakan menjadi ada dan seakan-akan dikerjakan. &#x26;quot;Enakan
kerja cari duit dan ini adalah kenyataan hidup. kerja keras, cari duit,
buat makan, dan bertahan hidup di kota. bukannya menulis puisi segala&#x26;quot;
pikirnya ketika dia berprofesi sebagai sopir saat itu. Entah itu
kekesalan hatinya karena karyanya tidak pernah dimuat di koran dan
karena karya-karya temannya sering dimuat dan bisa hidup dari dunia
menulis. Apalagi harus main internet, mengirim email, menulis di blog,
mencari seuatu, &#x26;quot;Sebuah pemborosan. Hidup dengan dunia maya, dunia
mimpi, dan dunia semu. kayak dunia setan&#x26;quot; begitu sengit Supri waktu itu
menanggapi dunia menulis dan internet apalagi setelah mendengar banyak
teman-temannya yang berhasil hidupnya hanya karena menulis dan hidup
dengan dunia internet.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Namun itu dulu, kini
Supri telah berubah. Supri merombak apa yang dulu pernah ditabukan dan
dijauhinya. Supri ingin kembali menulis puisi cinta dan ingin
megumpulkan puisinya dalam sebuah blog si suatu situs yang Linda aktif
di dalamnya. Supri ingin mengirimkan puisi cinta kepada Linda lewat
email, Supri ingin menunjukkan kepada Linda bahwa biarpun dia sopir dia
bisa menulis puisi dan mengirim email. Supri kembali membuka segala
ingatannya tentang pusi dan kata-kata cinta. Supri pun mulai datang ke
warnet membuka situs pertemanan, mengisi blog dengan puisi cintanya,
lalu puisi itu Supri copy-paste dan ia kirimkan ke email Linda.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Supri malam itu berada di sebuah warnet dekat dengan tempat
dia bekerja. Berjam-jam depan komputer, mengetik puisi ke blognya
&#x26;quot;Tuhan Mencintai Supri&#x26;quot; di dalam situs pertemanan yang terkenal. Depan
komputer sambil membuka-buka buku kumpulan puisi karya pengarang
terkenal yang terkenal dengan puisi cintanya, Supri mencoba menulis
puisi cinta. Tak perlu susah ternyata Supri untuk belajar menulis puisi
dan internet karena dia dulu mempunyai dasar untuk itu. Sekarang
tinggal mengingatnya. &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Kata-kata puitis dan
cinta tercipta dari ketikan Supri.&#x26;nbsp; Supri ternyata orang yang
melankolis juga dengan berbagai macam ingatannya tentang cinta dan
kerinduan begitu deras meluncur keluar, meskipun agak berat juga dia
harus menyusunnya menjadi sebuah kalimat yang puitis dan enak dibaca.
Kadanga ia terpengaruh juga dari bacaan buku puisi yang ia baca saat
itu dan kadang mengambil sedikit petikan lirik lagu yang ia dengar.
Supri tak peduli pada waktu dia terus mengeksplorasi segala ingatan dan
pengalamnnya tentang cinta dalam tulisan biarpun malam semakin larut
dan warnet mulai sepi. Supri hanya ingin dia membuatkan sebuah puisi
buat Linda di malam itu dan berharap Linda membacanya serta Linda mau
melihat blognya yang telah ia setting menjadi blog yang sedemikian
romantis, penuh bunga. &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Menjelang tengah malam
petualangan cinta Supri di dunia maya&#x26;nbsp; berakhir dan ia telah berhasil
menyelesaikan sebuah puisi buat Linda berjudul &#x26;quot;&#x3C;em&#x3E;Bunga.&#x26;nbsp; Engkau bagai
bunga yang selalu dijilatin mentari pagi. Angin gerakkan hasrat rindu
ingin menyapamu. Membuka sunyi hati hingga rindu ini tertumpah pada
ruang cinta mu yang masih membeku. Lalu aku pun akan hiasi ruang ini
dengan cinta dan canda kanak-kanak. Oh terpujilah cinta.&#x26;quot; &#x3C;/em&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;
&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Malam sesudah Supri selesaikan semua kewajiban
dan tugasnya. Supri selalu melakukan kebiasaan baru yang tak pernah ia
lkukan sebelumnya. Supri selalu megirim sms kepada Linda sekedar
mengucapkan gimana kabarnya? sudah tidur belum? selamat tidur?. Bila ia
pununya pulsa penuh Supri pun kadang langsung mengebel ke Linda, dia
kangen dengan suara Linda yang menurutnya bisa menggugah hatinya. Supri
ingin bercakap-cakap dengan Linda lalu menanyakan kabarnya, sekedar
basa-basi agar tak putus hubungan, demikian pikir Supri.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Semenjak kenal dengan Linda Supri ingin selalu dekat ke orang
tuanya ke ibunya, Supri ingin membawa LInda dan memperkenalkannya ke
orang tuanya. Malam itu Supri rasanya juga pingin nelpon ke orangtuanya
di kampung. Supri pun telah punya HP baru jadi orangtuanya di kampung
bisa sekali waktu nelpon ke dia langsung tak perlu pakai telepon
kantor.&#x26;nbsp; &#x26;quot;Malam ini orang tuaku mungkin belum tidur, aku pingin ngebel
ke sana. Biar orangtuaku ngerti juga no HPku&#x26;quot;.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Selalu
bila Supri ngebel ke orang tuanya ibunya hanya menasehati dia supaya
selalu bisa jaga diri, hati-hati di tempat orang, harus tahu diri, dan
selalu ingat sholat dan berdoa. &#x26;quot;Supri kamu sudah besar. Kamu sudah
tahu jalan mana yang terbaik untukmu. Kamu sudah bisa cari&#x26;nbsp; uang.
Tentunya kamu sudah waktunya kamu cari jodoh. Pilih yang rajin sholat,
sayang sama kamu, keluarga, dan tidak boros sama uang, dan tidak pelit
sama uang. kalau bisa satu daerah. Kalau memang kamu suka sama Linda
anak orang kaya yang&#x26;nbsp; nurut kamu orangnya baik, ya gak pa-pa. Ibu
setuju saja, asla kamu bisa jaga diri dan tahu diri kamu itu siapa?&#x26;quot;
kata ibunya menasehati dalam HP Supri malam itu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Jaga
diri dan tahu diri&#x26;quot; Supri faham dengan katya itu dan tiba-tiba Supri
melinangkan air matnya setelah mendengar nasihat ibunya. Teringat
dirinya berasal dari kampung dari kelaurga yang tidak kaya, hidup
sederhana, orang tuanya hanya pekerja biasa dan pendidikan yang biasa
saja. Dibanding dengan Linda dan orang tuanya. &#x26;quot;OOOh beda jauh antara
langit dan bumi, ooh mungkinkah menyatu, Oooh Tuhan satukan aku dengan
Linda ini&#x26;quot; demikian harapan Supri dalam isak tangisnya di malam itu.
Supri hanya memasrahkan dirinya pada Tuhan, yang terjadi biarlah
terjadi.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;00000000000&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Hari itu di akhir bulan
waktunya Supri menerima gaji. Supri menunggu bosnya memanggil dia.
Seperti kebiasaan di perusahaannya, para karyawan selalu menunggu untuk
dipanggil bosnya sekalian bosnya memberikan sedikit penilaian tentang
kinerja anak buahnya selama sebulan.&#x26;nbsp; Supri hanya duduk saja menunggu
dengan penuh harapan sebagaimana harapn pekerja yang lain semoga
gajinya ditambah atau mendapat bonus atau jangan samapai gajinya
dipotong karena ada masalah dalam pekerjaan.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
Supri berencana dengan uang gaji itu dia akan membelikan ebuah boneka
buat si Linda. Sebuah boneka yang kayaknya sangat diinginkan oleh
Linda. Ketika Supri dan Linda berjalan-jalan di sebuah mall dan Linda
berhenti pada sebuah toko. Pandangan Linda tertuju pada sebuah boneka,
boneka salah satu binatang yang lucu dan besar. Harganya memang mahal
karena barang import dan kualitasnya juga bagus.&#x26;nbsp; Sebetulnya Linda mau
membeli karena ia mempunyai cukup uang tapi ia mengurungkan niatnya.
Linda berharap ada seorang yang baik hati yang membelikan dia sebuah
boneka dan memberikannya sebagai kenangan. Dia akan sangat bahagia
tentunya dan orang yang membelikannya tentunya orang yang dekat sama
dia. Akan bertambah cinta dan suka Linda ama orang itu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Supri berjanji di akhir bulan akan membelikan Linda sebuah
boneka meskipun mahal harganya. Gajinya akan dia buat untuk membelikan
Linda sebuah boneka tentu saja dia akan mengajak Linda, jalan-jalan,
nonton atau makan. Romantis sekali dan cinta Linda kepadanya akan
bertambah erat dengan adanya boneka itu. Linda pun akan teringat dan
terbayang dirinya setiap saat, setiap waktu dengan kehadiran boneka
itu.&#x26;nbsp; Sesudah gajian&#x26;nbsp; Supri akan pergi ke mall itu, membeli sebuah
boneka, lalu membungkusnya dengan amat indah, lalu akan pergi ke rumah
Linda dan memberikan boneka kepadanya, lalu mengajak Linda jalan-jalan,
dan makan, Lalu di malam itu Supri akan menyatakan cinta pada Linda. Oh
hayalan yang sempurna.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Supri dipanggil bos&#x26;quot; tiba-tiba
Roni datang kepadanya dan membuyarkan hayalan Supri yang saat itu
sedang duduk menyendiri dalam sebuah mobil.&#x3C;br /&#x3E;
&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;quot;Ya Ron. Aku datang&#x26;quot; jawab Supri sedikit gugup dan tergopoh-gopoh bangun lalu keluar dari mobil. &#x3C;br /&#x3E;
&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kata bos kamu ada maslah. Nggak tahu masalah apa?
yanmg penting bukan masalah pekerjaan, pokoknya datang saja&#x26;quot; kata Roni
yang merupakan manager umum di perusahaan itu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Roni
pun datang ke ruang kerja bosnya lalu duduk menghadap bosnya dengan
sopan. Bosnya hanya diam sambil melihat-lihat lembaran buku di mejanya.
&#x26;quot;Supri kamu gak ada masalah dalam pekerjaan. Kinerjamu selama sebulan
cukup bagus&#x26;quot; tiba-tiba bosnya berkata. &#x26;quot;Namun kamu ada sedikit masalah
berdasarkan catatan keuangan yang dikirimkan oleh bagian kasir.
Ternyata kamu telah banyak kas bon kepada kantor untuk banyak hal.
Mulai buat ngirim orang tua yang sakit di kampung, buat beli HP, buat
beli Radio-Tape, buat macem-macem yang gak ada kaitannya dengan
pekerjaan. Mungkin bulan kemarin gak kulihat dan kupikir kamu akan
menyicil buat melunasinya namun ternyata tidak&#x26;quot; kata bosnya mempertegas
dan Supri nampaknya sudah mulai dagdiddug serta duduknya pun mulai
tidak tenang. Supri merasa dia akan menghadapi kenyataan yang terburuk
entah apa?&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Jadi kupikir aku akan memotong
gajimu untuk bulan ini. Tapi cuma kupotong sebagian tidak seluruhnya.
Bulan depan kamu juga mulai menyicil melunasi hutangmu, apalagi kamu
ada kabar rencana mau hutang ke kantor buat nyicil beli motor. Entar
dulu nunggu hutang-hutangmu lunasi dulu. Bagaimana Supri?&#x26;quot; tegas bosnya
memberikan keputusan. Bosnya juga memberikan Supri selembart amplop
slip gaji bulanan.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp; &#x26;quot;Baik pak. Terima kasih.&#x26;quot; jawab Supri yang cepat-cepat mau meninggalkan ruang kerja bosnya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Tunggu dulu Supri. Ada kabar katanya kamu sudah punya pacar
ya&#x26;quot; tanya bosnya untuk mencairkan suasana hati Supri yang tiba-tiba
bersedih hati.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ya bos bener. Tuh jadinya sering
ngebon, duitnya buat pacarnya, buat beli macem-macem buat ngejar cewek&#x26;quot;
tiba-tiba Roni yang memang orangnya ceriwis nyeletuk berbicara.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Bener bos&#x26;quot; jawab Supri yang juga tersenyum kepada bosnya
namun kelihatan dipaksakan. Supri pun meninggalkan ruangan kantor
dengan perasaan galau.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Keluar dari kantor jalanan
ramai, kendaraan berlalu lalang, semua tak ada memberi kesempatan untuk
Supri berjalan dan menyebrang jalan. Supri lau memandang langit yang
sangat terik siang itu. Matahari yang tak memberikan kesempatan kepada
dia untuk mendinginkan pikirannya yang sedang kalut, lalu gambaran
Linda bersama orang tuanya di balik awan-awan. Gambaran mereka entah
sedang tersenyum atau marah kepada Supri. Supri hanya mengantongi
sedikit uang. Taka ada lagi boneka, tak ada lagi uang untuk ngirim
orang tua ke kampung, semua uang gajiannya ludes buat bayar hutang.
Belum lagi utang di warung makan, bayar kontrakan, dan buat yang
lain-lain. Ya gambaran Linda dan orang tuanya kini menghilang entah
kemana. Pikiran Supri menjadi pusing. Supri lalu berjalan cepat pulang
ke rumah kontrakannya. Tak menghiraukan teman-temannya yang pada
ngumpul, dan bergembira setelah menerima gaji. Supri ingin tidur. Supri
hanya bisa menangis dan meratapi kemalangan nasibnya. Tertidur hingga
melewati batas waktu dhur dan ashar.. &#x3C;/p&#x3E;
</description>
<category>Photography &#x26; Art</category>
<guid isPermaLink="true">http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1788275</guid>
<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 11:36 EDT</pubDate>
</item>

<item>
<title>SUPRI IN LOVE</title>
<link>http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1783611</link>
<description>&#x3C;address&#x3E;&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 0);&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;5&#x22;&#x3E;&#x3C;span style=&#x22;font-family: Times New Roman;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x3C;font size=&#x22;4&#x22; style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;6&#x22; style=&#x22;font-family: Avant Garde; font-weight: bold; color: rgb(24, 24, 40);&#x22;&#x3E;K&#x3C;/font&#x3E;ebetulan
hari sabtu&#x26;nbsp; kerjaan Supri lagi kosong. Supri pun semapatkan diri ke
sebuah wartel sebelah kantornya dan rencana mau menelpon Linda, anak
orang kaya yang pernah Supri antarkan sebuah mobil. Supri berkenalan
dengan Lestari saat itu ketika dia membukakan pintu pagar rumahnya.
Rupanya dari perkenalan itu Supri jatuh hati apalagi Linda orangnya
ramah dan tidak meremehkan Supri seorang Supir yang mengantarkan&#x26;nbsp;
kiriman sebuah mobil. Perkenalan yang membekas di hati Supri, yang
membuat dia menyimpan nomer telepon rumahnya. Supri ingin sekali
menelpon dia lalu ketemuan,&#x26;nbsp; lalu&#x26;nbsp; berteman,&#x26;nbsp; lalu.... &#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;/address&#x3E;
&#x3C;p style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp; &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;Berdebar-debar hati Supri ketika pertama kali mau menelpon Lestari. Sebetulnya
Supri kurang percaya diri dan minder untuk menelpon Lestari, namun
hasrat hati untuk kepingin bertemu dengannya. Supri pun memberanikan
diri.
&#x26;quot;Hallo Assalamu&#x27;alaikum. Selamat pagi , Bu. Apakah ini rumah Lestari?
Lestari-nya ada, Bu?&#x26;quot; begitu sopan Supri memulai ucapannya di telepon.
Supri sadar dia sedang menghadapi orang kaya yang pendidikannya lebih
baik daripada dia seorang sopir. &#x3C;br /&#x3E;
&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Wa&#x27;alaikum salam. Ya bener ini rumah Linda. Sekarang lagi makan.
Tunggu dulu ya saya panggilkan. Ini dengan siapa?&#x26;quot; jawab seorang wanita
yang suaranya seperti orang tua diujung gagang telepon yang dipegang
Supri.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ya saya Supri, Bu. Temannya. Ada keperluan penting yang pingin saya
bicarakan dengan Linda. Ini dengan siapa, ya?&#x26;quot; kata Supri setengah
berbohong untuk meyakinkan wanita tua itu.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Saya mamanya. Sebentar ini Linda sudah kelar makan. Lin nih ada
telepon?&#x26;quot;&#x26;nbsp; jawab wanita itu yang ternyata mamanya dan sekalian
memanggil Linda. Linda pun datang dan gagang telepon kini dipegangnya.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Oh, ya. Supri siapa ya? Ada keperluan apa?&#x26;quot; tiba-tiba sebuah suara
yang selama ini dinantikan dan dirindukan oleh Supri terdengan dari
gagang telepon yang dipegangnya. Degub jantungnya semakin kencang dan
sebuah keringat dingin sedikit demi sedikit turun di wajahnya. Hatinya
antara gembira, bingung, dan setengah tak percaya kalau akhirnya bisa
juga dia menelpon seorang perempuan yang selama ini diimpikan, Linda
Permatasari. &#x3C;br /&#x3E;
&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Supri yang selama ini sepertinya anti perempuan, tidak bisa
mendekati perempuan, dan tak pernah menelpon ke perempuan, ternyata dia
bisa. Supri seperti seorang musafir yang kehausan di tengah padang
pasir yang ternyata tiba-tiba menemukan sebuah mata air. Suara Lestari
ditelepon bagaikan sebuah percikan batu yang membongkar keangkuhan hati
Supri terhadap wanita dan yang memberi dahaga bagi jiwa Supri yang
merindukan seorang wanita.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Oh...Ah. Eh...Maafkan saya mbak. Saya Supri yang waktu itu
mengantarkan sebuah mobil kiriman untuk papa Linda. Saya pingin nelepon
ke kamu. Bolehkan?&#x26;quot; jawab Supri sedikit gugup dan ia mencoba mengatur
omongan serta degup jantungnya yang semakin kencang. &#x3C;br /&#x3E;
&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Oh kamu. Saya ingat. Heyy...gimana kabarnya? Sekarang kerja atau
lagi libur. Kok tumben nelpon kemari, gak dari dulu aza nelpon?&#x26;quot; jawab
Linda. Tentu saja jawaban Linda yang ramah dan hangat ini membuat Supri
sedikit lega. Linda memang seorang yang ramah kepada siapa saja,
terbuka dan pandai bergaul. Dia pun tak membedakan dengan siapa ia
bergaul dan berhubungan meskipun dia anak orang kaya.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kabarku baik. Eh....ya kebetulan lagi kosong gak ada kerjaan, terus
saya pingin ngebel ke mbak Linda. Ganggu tidak ya?? maaf lho?&#x26;quot; jawab
Supri dengan perkataan terbata-bata. Maklum dia seorang sopir dan orang
kampung yang tentu tak biasa menelpon seorang gadis anak orang kaya.
Tetapi Supri nekad dan memberanikan diri agar bisa berkenalan dan kalau
bisa ketemuan dengan Linda.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Mbak sebetulnya saya pingin nelpon ke rumah kamu. Tapi malu dan gak
enak hati. Mungkin sekarang saya bisa ngebel kamu. Maafkan saya ini ya
mbak. Sekarang kabar mbak gimana?&#x26;quot; lanjut Supri ketika keberanian untuk
berkata sudah mulai timbul dan ia harus bisa untuk bercakap-cakap
dengan Linda.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kabarku baik, Mas. aku sih orangnya wellcome saja kepada setiap
orang asal orang itu baik, sopan, dan tahu aturan dan tatakrama gitu.
Mas Supri juga aku terima kalo misalnya datang ke rumah dan kebetulan
saya ada. Kalau aku gak ada kuliah atau pergi belanja, kerja ya mas
Supri gak saya terima hehehe...&#x26;quot;jawab Linda setelah mendengar kekakuan
dari perkataan Supri. Linda memang luas pergaulan dan ia sering bergaul
dengan siapa saja tentu ia menyadari lawan pembicaraannya sedang dalam
kekakuan untuk ngomong. Linda pun berusaha mencairkan suasana.&#x3C;br /&#x3E;
&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;font size=&#x22;4&#x22;&#x3E;&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ya bener. saya pingin datang ke rumah kamu. diizinkan nggak ya?
kalau diizinkan nanti malam bisa? saya kuatirnya Linda punya pacar yang
mendatangi jadi saya gak bisa datang ke rumah&#x26;quot; kata Supri dengan hati
yang berbunga-bunga. &#x26;quot;Ternyata Linda terbuka dan tentu saya diizinkan
ke rumahnya. Alhamdulillah Ya Allah&#x26;quot; katanya dia dalam hati.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Wah
mas Supri silahkan datang ke rumah aku. Aku ini orangnya welcome kayak
aku bilang tadi. Tar malam aku juga gak ada kegiatan jadi aku di rumah
saja. Silahkan mas Supri. Datang jam berapa?&#x26;quot; jawab Linda dengan nada
sedikit kesal atas perkataan Supri yang diulang-ulangi tentang izin
datang ke rumahnya.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;quot;Makasih mbak Linda. Tar sore saya datang. Tunggu saja ya&#x26;quot; Supri setengah berteriak menimpali perkataan Linda.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ya
kutunggu. Sekarang aku tutup dulu ya. Mau mandi. Dah Assalamu&#x27;alaikum&#x26;quot;
kata LInda untuk mengakhiri pembicaraan karena dia ingin segera mandi.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Supri, Elo kemana aza. Dicari bos. ada perlu disuruh ngirim barang ke
luar kota. Segera hari ini&#x26;quot; tiba-tiba Yusuf teman kerja Supri masuk
dalam bilik wartel serta meneriakinya. Supri meletakkan gagang telepon
dan sekarang ia kembali ke asalnya, seorang sopir setelah sempat ia
terbuai ketika menelpon Linda.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ya.
Tunggu dulu mau bayar wartel dulu. Habis itu ke kantor&#x26;quot; jawab Supri
yang kesal juga ketika dia enak-enaknya melamun lalu diganggu temannya,
si Yusuf. &#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
Sesudah bayar di kasir wartel Supri segera kembali kerja sebagai sopir
ekspedisi yang mengantar mobil kiriman ke dealer/customer. Hari itu dia
harus segera melaksanakan perintah bos dan hari itu dia harus datang ke
rumah Linda. &#x26;quot;Sedapat mungkin aku harus nyetir agak kencang meski
biasanya tidak pernah&#x26;quot; rencananya. &#x26;quot;Aku harus datang ke rumah Linda
sore hari gak enak kalau malam-malam datang ke rumah seorang gadis&#x26;quot;.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; **************&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Sore
itu setelah sholat maghrib Supri keluar kamar dengan dandanan yang
sangat rapi. Memakai hem lengan panjang, pemberian dari ibunya ketika
lebaran lalu serta celana jeans yang ia beli di sebuah supermarket
ketika ada potongan harga gede di supermarket itu. Pun parfum wangi
yang disemprotkan di bajunya dan di dapat dari temannya mengiringi
keberangkatannya. Sepatunya pun masih baru ia pakai, sepatu dari hasil
kredit di temannya yang dagang sepatu dan sekarang sudah lunas. Enak
rasanya memakai sepatu mahal daripada sepatu murah yang biasa ia pakai
tiap kali kerja. Supri sore itu berdandan habis-habisan. Dia ingin
memberikan imej bagus kepada Linda.&#x26;quot;Kesan pertama akan menentukan
selanjutnya&#x26;quot; begitu pikir Supri.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Namun
di balik itu dalm hati Supri ada rasa kuatir, cemas, takut, bangga, dan
bahagia. Semua bercampur jadi satu. Supri tak bisa membayangkan apa
yang akan terjadi nantinya. Baginya yang penting dia telah datang ke
rumah Linda dan harus datang meskipun agak susah karena rumah Linda
jaraknya jauh. Mungkin baginya uang habis untuk ongkos datang ke rumah
Linda tidak jadi masalah, yang penting dia telah bertemu. Supri pun
merencanakan naik taksi untuk itu dan karena dia tak punya mobil atau
motor.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;.&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Bismillahirrahmanirrahim. Kun Fa Ya Kun. Niat ingsun dateng ke rumah
Linda&#x26;quot; kata Supri entah yang diucapkan itu adalah sebuah mantra atau
do&#x27;a. Tapi entah dia meniup sebuah udara ke tangannya lalau tangannya
diusapkan ke wajahnya serta kakinya menginjak-nginjak tanah beberapa
kali.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; **********************&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Sampai
dia ke rumah Linda dengan selamat menjelang isya&#x27;. Tak begitu sulit
mencari rumahnya karena Su7pri pernah datang ke rumahnya ketika
mengantarkan mobil kiriman dan kawasan rumah Linda berada sudah dikenal
oleh sopir tksi yang mengantarkan. &#x26;quot;Stop bang sudah sampai&#x26;nbsp; depan
rumahnya&#x26;quot; kata Supri memerintahkan Sopir taksi berhenti.&#x26;nbsp; Lalu Supri
memberikan sopir itu beberapa lembar ribuan untuk membayar ongkos taksi
itu.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Hati
Supri semakin berdebar-debar ketika berada depan rumahnya. &#x26;quot;Rumahnya
sangat kaya kayak rumah bosku. Sedang rumahku biasa saj di daerah
kampung. Tapi masak orang seperti aku gak boleh masuk&#x26;quot;pikirnya ketika
melihat situasi keliling. Rumah Linda memang besar, berlantai 2, dengan
gaya arsitektur minimalis. Rumah itu pun mempunyai halaman yang cukup
luas, taman yang terawat rapi, garasi mobil, dan ada dua mobil yang
kebetulan markir di dalamnya.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Supri
memencet bel di pagar rumah. &#x26;quot;Assalamu&#x27;alaikum&#x26;quot;teriaknya. Syukur
teriakannya bisa didengar oleh pembantu rumah tangga rumah tersebut.
&#x26;quot;Wa alaikum salam&#x26;quot; jawab pembantunya sambil lari ke pagar depan rumah.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;quot;Mas ini siapa? Nyari siapa Mas?&#x26;quot; tanya pembantu itu.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;quot;Mbak Linda ada Mbok? saya Supri temannya sudah janji mau datang ke rumahnya&#x26;quot; jelas Supri untuk meyakinkan pembantu itu.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Oh
Mas Supri ya. Mbak Linda sudah pesan tadi pada saya kalau ada mas Supri
suruh masuk saja. Silahkan masuk Mas&#x26;quot; kata Pembantu rumah tangga sambil
membukakan pintu.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Dengan
sedikit dag dig dug Supri memasuki halaman rumah itu dan menuju ke
teras rumah. Teras rumah yang bernuansa modern hanya diberi beberapa
kursi dan meja. &#x26;quot;Silahkan duduk mas. Saya panggilkan mbak Linda dulu&#x26;quot;
lalu pembantu rumah tangga itu masuk ke dalam rumah. Tak lama sesudah
itu Linda keluar.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Hai
mas Supri. Akhirnya datang juga. Gimana kabarnya&#x26;quot; kata Linda yang
sedikit mengagetkan lamunan Supri setelah melihat rumah itu.&#x26;nbsp; Linda pun
mengulurkan&#x26;nbsp; tangannya untuk berjabat tangan ke Supri. Supri sedikit
ragu-ragu ketika tiba-tiba Linda mengulurkan tangan, &#x26;quot;Ajaran agamaku
melarang laki-laki dan perempuan bukan muhrim bersentuhan tangan.
Tapi....&#x26;quot;pikir Supri. Akhirnya Supri membalas menjabat tangan Linda
meski sebentar saja.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Tangan Linda terasa lembut dan aku baru kali ini berjabatan tangan
dengan seorang gadis anak orang kaya, ternyata berbeda lebih halus
daripada gadis di kampung&#x26;quot; pikirnya. Tapi yang membuat Supri
berbunga-bunga hati, bangga, takjub dan terpesona bukan karena
berjabatan tangan dengannya. Sosok Linda yang memang kelihatan cantik,
berkulit putih bersih, dan wajahnya yang kelihatan segar, ceria, dan
penuh senyum dibalut dengan busana yang simpel dan sopan membuat Supri
sempat terpana. &#x26;quot;Inikah seorang Linda. Orang yang pernah kutelpon, kini
aku berhadapan dengannya&#x26;quot;pikirnya. Supri memang lama tak bertemu dengan
Linda sejak ia mengantarkan mobil kiriman ke rumah orangtuanya. Supri
agak lupa-lupa ingat dengan wajah Linda. Tapi ia masih terkenang dengan
senyum Linda pertama kali itu, Senyum yang bisa membuat seorang musafir
yang haus, lelah, dan letih di padang pasir menjadi hilang ketika
melihat sebuah mata air di tengah padang pasir yang tandus. Senyum yang
tulus dan murni.&#x26;nbsp; Kini senyuman&#x26;nbsp; itu telah dirasakan kembali oleh
Supri.&#x26;nbsp; Supri seorang bujangan&#x26;nbsp; yang hidup menyendiri namun selalu
mencari pendamping hidup yang sesuai dengan keinginanya.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Bengong aza. Santai mas Supri, gak usah takut dan tegang aku gak
membunuh kamu kok. Kamu mau minum apa?&#x26;quot; tiba-tiba perkataan Linda
membuyarkan lamunan Supri.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;quot;Oh...eh...Gak usah repot-repot mbak. Es teh manis aza gak papa&#x26;quot; jawab Supri.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ya
gitu. Ngomong dong. Jangan diem aza. Mbok tolong bikinin minuman Ya&#x26;quot;
kata Linda sekaligus menyuruh pembantunya membawakan minuman untuk tamu.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Linda
rumah ini kok tampak sepi kemana saja semua orangnya ya. Bapak-ibu
Linda kemana?&#x26;quot; Supri pun berusaha membuka obrolan meskipun agak kaku
dia ngomong.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Bapak-ibu di dalam nonton tivi. Di sini anaknya cuma aku seorang.
Terus papa mama melihara anak yatim dan ponakannya di rumah biar
ngramein rumah serta nemenin aku. Jadinya aku punya banyak teman di
rumah gak kesepian. Kadang teman kuliahku datang, pun aku juga kadang
ke tempat pengajian tiap malam&#x26;quot; kata Linda sedikit menjelaskan tentang
dirinya yang tampaknya Supri penasaran pingin tahu.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Maaf
terus pacarmu? maaf kok gak ada anak laki yang datang ke rumah kamu
malam ini selain saya?&#x26;quot; kata Supri yang nampaknya ingin mengucapkan
sesuatu.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Perkara pacar ada deh dan aku gak seberapa mikirin. Yang penting aku
punya banyak teman dan saudara. Ya itulah aku&#x26;quot; jelas Linda. &#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Sang
Pembantu rumah tangga lalu datang. Dua buah gelas minuman teh manis
diletakkan dari namkpannya ke meja juga beberapa panganan kecil.
&#x26;quot;Silahkan diminum dan diincipi. Bikinan aku sendiri kalau lagi senggang
di rumah. rasanya enak kok hehehe....? Linda pun memepersilahkan Supri
minum.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;quot;Makasih. Ngerepotin aza&#x26;quot; jawab Supri&#x26;nbsp; sambil mengambil sebuah gelas yang dekat dengannya lalu meminumnya.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
Akhirnya pembicaraan anatara Supri dengan Linda pun berjalan lancar.
Linda dengan gaya omongannya yang ramah dan terbuka sedang Supri dengan
omongan yang masih kaku, dan logat daerahnya yang kental keduanya
beradu omongan. Tentu dalm suasana perkenalan omongan yang dibicarakan
berkisar sekitar keadaan di pribadinya. Masing-masing ingin menunjukkan
siapa dirinya agar saling mengenal lebih dekat. Mungkin Supri tak
canggung lagi berbicara dengan Linda.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Tak
terasa pukul 9 malam. Supri pamit pulang.&#x26;nbsp; Supri kuatir kalau sudah gak
ada angkutan umum lagi bila sudah lebih dari jam 10 malam. &#x26;quot;Mbak Linda
sudah jam 9 malam. saya permisi pulang dulu. Bapak-ibu dimana? mau
pamit dulu&#x26;quot; kata Supri sambil berdiri dari kursinya.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Oh ga
apa-apa. Aku pamitkan nanti. Terima kasih atas kedatangannya loh.
Jangan bosan-bosan main ke rumah ini&#x26;quot; sahut Linda yang juga ikutan
beranjak dari kursinya.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ya
Mbak Linda saya senang main ke rumah ini dan berteman dengan mbak
Linda. Saya pamit pulang dulu&#x26;quot; Supri pun mengucapkan kata perpisahan
lalu ia berjalan menuju pagar halaman diikuti oleh Linda. Lalu membuka
pintu pagarnya.&#x26;nbsp; &#x26;quot;Linda aku pulang dulu. Assalamu&#x27;alaikum&#x26;quot; kata Supri
samabil mengangkat tangannya.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; ***************************&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Malam
yang gelap menjadi saksi betapa bahagia dan bangga hati Supri. Supri
telah datang ke rumah Linda, gadis yang selama ini dikenal. Supri telah
bertemu dengannya ngobrol agak lama. Supri pun telah merasakan tangan
dari Linda yang lembut dan halus. &#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;span style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
Terdiam Supri dalam doanya setelah sholat isya&#x27;, hening suasana.
Tiba-tiba Supri bersujud agak lama sambil terisak dia berkata lirih :
&#x26;quot;Tuhan terima kasih kau telah pertemukan aku dengan Linda. Sekiranya
pertemuan tadi berlanjut terus dan sekiranya Linda bisa menjadi
pendamping hidupku kelak, oh tentu nasibku akan berubah tidak seperti
sekarang menjadi seorang sopir yang hidup sebatang kara. Tuhan kabulkan
permohonanku ini&#x26;quot;. Mungkin karena Supri lelah bermohon dan munajat
kepada Tuhannya di malam itu, Supri pun tertidur.&#x3C;/span&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;color: rgb(0, 0, 64); font-family: Courier;&#x22; /&#x3E;
&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;br /&#x3E;
Bekasi,15 maret 2008
</description>
<category>Romance &#x26; Relationships</category>
<guid isPermaLink="true">http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1783611</guid>
<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 12:25 EDT</pubDate>
</item>

<item>
<title>Maybe Nights Will Kill Supri</title>
<link>http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1779053</link>
<description>&#x3C;strong&#x3E;&#x26;quot;T&#x3C;/strong&#x3E;umben kamu kelihatan senang&#x26;quot; kata Ali kepada Supri ketika melihat Supri memasuki kamar kontrakannya.&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Tadi aku dapat &#x3C;em&#x3E;tabokan &#x3C;/em&#x3E;lumayan
waktu ngirim barang ke rumah orang kaya. Untung aku mau waktu disuruh
bos biarpun keadaan hujan deras dan syukur bisa buat bayar utang di
warung&#x26;quot;katanya sambil senyum-senyum wajahnya. &#x26;quot;Tar malam ajak
teman-teman kita makan bareng di warung nasi bebek, ya&#x26;quot; ajaknya lallu
masuk ke kamarnya dan bernyanyi-nyanyi.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Oke bos. Siap
kerjakan&#x26;quot; jawab Ali setengah berteriak melihat Supri langsung masuk
kamar. &#x26;quot;Baik. Tapi jangan nagajak orang banyak, bisa tekor aku&#x26;quot; teriak
Supri juga dalam kamar.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  ***************&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Malam itu Sesudah isya&#x27; Supri dan teman-temannya ada 5 orang sudah
berada di Warung nasi bebek. Namanya juga mereka orang kampung dan
profesinya Supir tentu banyak canda, cerita, guyonan, dan saling
meledek antar sesama teman. Yang menjadi bahan omongan mereka tentu
saja tak lepas dari dunia sopir-menyopir, tentang barang yang mereka
bawa, tentan orang yang ditemui di jalanan, tentang keluarga mereka,
teman mereka, dan bos mereka. Paling dominan dari pembicaraan mereka
tentu saja tentang wanita, karena mereka semuanya lelaki dan yang
menjadi korban pembicaraan tentu saja si Supri karena masih membujang.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Mereka bercanda tidak melihat suasana, sebelum makanan nasi bebek
dihidangkan, ketika makan, maupun sesudah makan. Warung Nasi bebek
malam itu menjadi milik mereka biarpun ada beberapa orang yang membeli
makanan, tak dipedulikan mereka bahkan malu sendiri lalu cepat-cepat
keluar. Entah mereka sedang melampiaskan semua unek-unek dan kekesalan
mereka, mereka kaum sopir yang bercanda dengan cara mereka endiri yang
kadang orang melihat canda mereka kadang-kadang konyol, tak tahu etika,
dan jorok.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Cukup. Cukup. Sudah malam kasihan
mbakyu(penjual warung). Lihat dia mulai mengantuk&#x26;quot; kata Ali melihat
teman-temannya yang tak juga meninggalkan warung.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Mbaknya
itu gak ngantuk, tapi kebelet sunnah Rasul. Sekarang khan kamis malam
jum&#x27;at, waktunya jalankan sunnah Rasul. Bener Mbakyu&#x26;quot; sahut Guntur yang
orangnya asal ceplos saja dalam ngomong.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Mbaknya
senyam-senyum aza mendengar Guntur berkata begitu. &#x26;quot;Ah nggak Mas
Guntur. Ada-ada saja. Masak mau begituan diceritain, tar kalau sudah
waktunya khan bisa dimulai. Tanya saja sama Mas Pariyin (suami mbakyu).
Nunggu malam dulu, nutup warung, gitu loh Mas&#x26;quot; kata Mbakyu menanggapi
omongan Mas Guntur.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ngerti kok. Cuma bercanda. Kita juga
kepingin tapi gak ada lawannya. Lawannya jauh di kampung. Ya terpaksa
nganggur deh&#x26;quot;jawab Guntur yang tentu saja gara-gara omongannya ini
teman-temannya tertawa. Entah mereka menertawakan diri mereka sendiri
atau memang omongan Guntur yang lucu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ada lagi . Nih punya
teman tapi gak pernah sunnah rasul, padahal tuh anaknya ngerti. Heran
aku kenapa bisa begitu?&#x26;quot; Tiba-tiba Irfan yang paling gendut ngomong.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kamu nyindir aku ya. Kok jadfi aku melulu, kamu sendiri juga
bujangan gitu&#x26;quot; Supri yang sedari tadi diam saja nyerocos ngomong
karewna merasa tersindir.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Saya sih gak nyindir, cuma
ngomong kenyataannya. Buktinya boro-boro punya bini, pacar saja gak
punya. Sementara umur sudah tua. Kalau aku khan masih muda tiap malam
minggu ada yang kuapelin&#x26;quot; jelas Irfan yang emang usianya paling muda
diantara teman-temannya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;quot;Iya mbak carikan nih temanku pacar, tetangga kampung atau anaknya atau ponakan&#x26;quot; sahut Edi.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Anakku masih kecil. Ponakan ada tapi jauh di kampung, kalo janda
ada sih tetangga sebelah. Mas Supri suka tipe yang bagaimana sih?&#x26;quot;
jelas Mbakyu yang juga bertanya pada Supri.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ya sementara
nggak mikirin dulu, mkir kerja cari duit yang banyak. lau punya rumah,
punya mobil, habis itu nikah&#x26;quot; jawab Supri.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kelamaan Lo.
Keburu mati. Elo itu cuma sopir kagak mungkin bisa jadi orang kaya.
Ngaca dong. Kalo lihat kaca pion tuh lihat juga wajahmu&#x26;quot; kata Uung
dengan ketus.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Elo khan tahu sendiri. Aku makan ngutang,
baju ngemplang, tidur numpang, mau buka kutang, ya bisa ditendang. Apa
kata dunia sama Supri. hehehe...&#x26;quot;kata Supri menngkis omongan dari Uung.
Kontan mendengar jawaban itu teman-temannya tertawa terbahak-bahak.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Malam semakin larut dan jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Mereka
pun meninggalkan warung. Sepertinya mereka juga punya rencana untuk
menggunakan waktu di malam hari sesuai dengan keinginan hati
masing-masih. Si Irfan langsung masuk ke kamarnya dan mulai bermain
dengan hp-nya dan ngebel ke pacarnya, sambil tidur-tiduran. Si Guntur
bersama teman-temannya membuka lingkaran lalu mulai main kartu remi. Si
Uung mengambil gitarnya dan bernyanyi lagu-lagu cinta biasanya dia
mojok di ruangan. Si Ali yang mantan anak pesantren mengambil wudhu dan
mulai mengaji surat Yasin, Ashabul Kahfi. Dan Si Edi bersama mbah Warno
ngumpul lalu membeli anggur, bir bintang, mereka mulai pesta minuman
keras.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Sementara Supri bersiap-siap tidur. Sebelumnya dia
mengerjakan sholat 2 raka&#x27;at dan baca qur&#x27;an sebentar. Kebiasaannya
dulu yang selalu diingatkan orangtuanya bial mau tidur agar tidak
diberi mimpi buruk dan dilindungi dari gangguan setan, mahluk jahat,
serta bencana. Supri pun yakin akan hal itu. &#x26;quot;Supri jangan tinggalkan
sholat serta selalu berdoa&#x26;quot; begitu pesan orangtuanya ketika mau
berangkat merantau ke kota besar.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Tapi malam itu sesudah
melaksanakan sholat Supri tidak mengantuk. Dia hanya berdiam diri dan
kebiasaannya bila tidak mengantuk dia pergi menyendiri naik ke lantai
atas rumah, tempat jemuran pakaian. Mungkin dia pingin melakukan
perenungan. Sambil melihat keadaan sekeliling yang dipenuhi rumah-rumah
petak kecil, jalanan yang lenggang dan sepi dan hanya beberapa orang
yang lewat, suara binatang malam, nyamuk-nyamuk yang berterbangan serta
suara pemuda yang bermain gitar dan bernyanyi. &#x26;quot;Oh pemandangan yang
menjemukan. Hidup yang tanpa pernah ada perubahan hanya menjalani dan
menerima hidup&#x26;quot; begitu kata dia melihat keadaan lingkungan sekitarnya
yang seperti itu, lingkungan kampung.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Sementara
penglihatannya diarahkan ke atas, ke arah langit lepas di malam hari.
Ada bulan yang bercahaya , bintang yang bersinar di langit yang
kebetulan malam itu tidak mendung, dan sesekali melihat benda langit
yang bergerak. &#x26;quot;Sungguh ini suatu pemandangan yang indah. Menyejukkan
hati, Menyenangkan mata. Bulan yang bersinar. Bintang yang bersinar&#x26;quot;
kata Supri. Dia pun tak bosan-bosan memandang langit, melihat pesona
langit yang begitu menakjubkan. &#x26;quot;Tentu Gusti Allah bersemayam di atas
sana dan Dia pun memandang aku hambanya yang begitu hina ini. Bersama
malaikatnya. Mudah-mudahan Tuhan memperkenankan permohonan hambanya di
malam sepi ini&#x26;quot; kata Supri lirih lalu sambil melihat langit mulutnya
komat-kamit seperti berdo&#x27;a.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Malam semakin larut sepertinya
supri semakin tenggelam dalam perjalanan malamnya. Entah jiwanya
terbang kemana, pikirannya melayang kemana, dan Supri pun seperti orang
gila atau bodoh yang selalu memandang langit. Pikirannya kosong, sedang
tatap matanya setengah ngantuk setengah sayu memandang ke atas langit,
kadang smabil mengeluarkan air mata. dia duduk bersandar di sebuah
dinding.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Supri tenggelam dalam hayal dalam fantasi, dalam
imajinasinya yang tidak karu-karuan. Supri berjalan melewati
waktu-waktu yang pernah dilalui dalam kabut gelap. Dia sangat menikmati
perjalanan itu, pun dia ingin berjalan menembus kabut yang gelap itu.
Terasa jauh meninggalkan awal, dia pun menghilang di balik kabut gelap
itu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;quot;Mas Supri kemana?&#x26;quot; tiba-tiba ada suara wanita yang menghentikan perjalanannya. &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Gak tahu aku mau kemana. Aku cuma pingin jalan-jalan mencari
sesuatu yang bisa membahagiakan hati&#x26;quot; jawab Supri. Dia pun sedikit
kaget melihata wanita yang menyapa adalah anak dari orang kaya yang
ditemui ketika mengirimkan barang. Wanita itu berpakaian dalam pakaian
busanan adat jawa, sangat cantik seperti seorang putri raja, dan Supri
hampiur tidak percaya tiba-tiba dia hadir dan muncul.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;quot;Kenapa kamu kok disini?&#x26;quot; kata Supri sambil terenyum. Mungkin hati
Supri sangat senang dan bangga tiba-tiba bisa bertemu dengan anak itu.
Anak orang kaya yang cantik dan masih sekolah di perguruan tinggi
namanya Ajeng. &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Saat Supri mengirim mobil pada siang
harinya. Ajeng itu pertama kali menemuinya. Supri tentu saja blingatan,
serba salah, jaim, serta ge-er melihat wanita cantik yang tak pernah
ditemuinya kecuali di acara sinetron atau film. Wanita ramah menyapa
Supri dan mengajak masuk ke rumahnya buat nemui orang tuanya, tentu
saja Supri tambah melayang dan bangga. Masuk ke dalam rumah orang kaya
yang rumahnya gedenya gak bisa dibayangkan sebelumnya. &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;quot;Gimana kabar bapakmu. Dimana sekarang?&#x26;quot; tanya Supri mencoba untuk memecah kebisuan.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;quot;Untuk itu saku datang menemui mas Supri. Aku disuruh papa mencari mas Supri diundang ke rumah papa&#x26;quot; jawab Ajeng.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;quot;Ada apa. Ada salah apa?&#x26;quot; pikir Supri yang merasa dia hanya orang kecil yang tak pantas bertemu orang kaya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Jangan kuatir dan takut, Mas. Datang saja bersam aku. Cepat
ditunggu&#x26;quot; jawab Ajeng yang melihat ada keraguan pada Supri. Lalu tanpa
disadari Supri, tangan Ajeng dengan cepat memegang tangan Supri lalu
terbang ke rumah papanya. Supri pun antara senang dan bingung ketika
tangannya dipegang oleh Ajeng.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Baru kali ini tanganku
disentuh oleh wanita. Betapa halus tangannya, dingin&#x26;quot; pikir Supri.
Sambil terbang di samping Ajeng menuju ke rumah papanya. &#x26;quot;Wangi juga
bau Ajeng. Anak orang kaya tentu terawat semuanya lain dengan anak
orang miskin yang ngurus dirinya aja gak pernah&#x26;quot; pikir Supri saat
mencium bau wangi dari tubuh Ajeng.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Perjalanan ke rumah
orang tua Ajeng telah sampai di depan pintu rumah. Di depan pintu rumah
ternyata papa- mama Ajeng menyambutnya dengan iring-iringan musik kebo
giro (musik tradisional Jawa untuk upacara pernikahan). Banyak orang
tapi tak satupun Supri kenal. &#x26;quot;Wah ada apa ini&#x26;quot; pikir Supri.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Tak lama Supri pun dihadapkan pada meja penghulu. enatah upacara
pernikahan model apa? tiba-tiba penghulunya cuma bilang sah. Supri
bertambah bingung dan ia seperti kerbau dicocok hidungnya. Duduklah dia
di kursi pengantin dan melihat tamu-tamu pada seliweran dan hiburan
tarian jawa. hingga waktunya dia masuk pada ruasng pengantin.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Supri tak tahu harus berbuat apa dalam kamar pengantin ketika hanya
ada dia dan Ajeng. Supri hanya takjub melihat sebuah kamar yang begitu
luas, indah,&#x26;nbsp; segar dan membandingkan dengan kamarnya yang begitu
sempit, pengap, dan bau karena dekat dengan kamar mandi. &#x26;quot;Supri. Ayo
kita minum-minum dulu. Rasakan minuman ini yang bisa bikin segar
dirimu&#x26;quot; tiba-tiba Ajeng berkata dan memecah kebisuan yang terjadi dalam
kamar itu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Supri menerima minuman itu dan melihat minuman
itu berwarna hitam segar dalam gelas yang selama ini ada pajang di
lemari tamu rumah bosnya. &#x26;quot;Ini bukan minuman keras. hanya minuman yang
bisa menyegarkan dan membangkitkan semangat kita Mas Supri&#x26;quot; kata Ajeng
yang sudah berdiri terlalu dekat dengan dengan Supri dan menempelkan
badannya. &#x26;quot;Ayo diminum mas Supri&#x26;quot;.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Supri pun meneguknya.
&#x26;quot;Puhbrur...fuh...cuh..cuh...cuh..&#x26;quot; Supri berteriak ketika tahu-tahu dia
minum ampas kopi yang telah dingin. &#x26;quot;Hah kok aku ada di sini dia atas
loteng. Astaghfirullah aku habis ngimpi apa?&#x26;quot; kata dia pelan dan
memperhatikan suasana sekeliling. Suasana kampung benar-benar sunyi,
cuma bunyi dengkuran orang tidur, dan pemabuk yang bernyanyi lagu cinta
tak karua-karuan. Lalu tiba-tiba dia bergidik, merinding, dan sebuah
angin menghembus dirinya. &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Jangan. jangan aku tadi
bertemu dengan........&#x26;quot;Supri cepat-cepat turun, ketakutan, dan masuk ke
kamar. Tidur menutupi wajahnya dengan bantal. Sementara tanpa disadari
oleh Supri dan orang sekitar seorang wanita cantik berwajah pucat
dengan rambut terurai panjang dan memakai baju hitam panjang mengikuti
Supri dari tadi. Dia pun berdiri memandang Supri dari jendela kamarnya.
Memandang Supri dengan tersenyum lalu tiba-tiba menghilang dan hanya
ada suara jeritan dari seorang wanita.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;Bekasi 01 maret 2008&#x3C;br /&#x3E;&#x26;nbsp;
&#x3C;br /&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;
</description>
<category>Religion &#x26; Ethics</category>
<guid isPermaLink="true">http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1779053</guid>
<pubDate>Sat, 01 Mar 2008 13:09 EDT</pubDate>
</item>

<item>
<title>Maybe Night Will Kill Supri</title>
<link>http://www.zorpia.com/fitrahanugrah/journal/1779051</link>
<description>&#x3C;strong&#x3E;&#x26;quot;T&#x3C;/strong&#x3E;umben kamu kelihatan senang&#x26;quot; kata Ali kepada Supri ketika melihat Supri memasuki kamar kontrakannya.&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Tadi aku dapat &#x3C;em&#x3E;tabokan &#x3C;/em&#x3E;lumayan
waktu ngirim barang ke rumah orang kaya. Untung aku mau waktu disuruh
bos biarpun keadaan hujan deras dan syukur bisa buat bayar utang di
warung&#x26;quot;katanya sambil senyum-senyum wajahnya. &#x26;quot;Tar malam ajak
teman-teman kita makan bareng di warung nasi bebek, ya&#x26;quot; ajaknya lallu
masuk ke kamarnya dan bernyanyi-nyanyi.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Oke bos. Siap
kerjakan&#x26;quot; jawab Ali setengah berteriak melihat Supri langsung masuk
kamar. &#x26;quot;Baik. Tapi jangan nagajak orang banyak, bisa tekor aku&#x26;quot; teriak
Supri juga dalam kamar.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  ***************&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Malam itu Sesudah isya&#x27; Supri dan teman-temannya ada 5 orang sudah
berada di Warung nasi bebek. Namanya juga mereka orang kampung dan
profesinya Supir tentu banyak canda, cerita, guyonan, dan saling
meledek antar sesama teman. Yang menjadi bahan omongan mereka tentu
saja tak lepas dari dunia sopir-menyopir, tentang barang yang mereka
bawa, tentan orang yang ditemui di jalanan, tentang keluarga mereka,
teman mereka, dan bos mereka. Paling dominan dari pembicaraan mereka
tentu saja tentang wanita, karena mereka semuanya lelaki dan yang
menjadi korban pembicaraan tentu saja si Supri karena masih membujang.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Mereka bercanda tidak melihat suasana, sebelum makanan nasi bebek
dihidangkan, ketika makan, maupun sesudah makan. Warung Nasi bebek
malam itu menjadi milik mereka biarpun ada beberapa orang yang membeli
makanan, tak dipedulikan mereka bahkan malu sendiri lalu cepat-cepat
keluar. Entah mereka sedang melampiaskan semua unek-unek dan kekesalan
mereka, mereka kaum sopir yang bercanda dengan cara mereka endiri yang
kadang orang melihat canda mereka kadang-kadang konyol, tak tahu etika,
dan jorok.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Cukup. Cukup. Sudah malam kasihan
mbakyu(penjual warung). Lihat dia mulai mengantuk&#x26;quot; kata Ali melihat
teman-temannya yang tak juga meninggalkan warung.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Mbaknya
itu gak ngantuk, tapi kebelet sunnah Rasul. Sekarang khan kamis malam
jum&#x27;at, waktunya jalankan sunnah Rasul. Bener Mbakyu&#x26;quot; sahut Guntur yang
orangnya asal ceplos saja dalam ngomong.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Mbaknya
senyam-senyum aza mendengar Guntur berkata begitu. &#x26;quot;Ah nggak Mas
Guntur. Ada-ada saja. Masak mau begituan diceritain, tar kalau sudah
waktunya khan bisa dimulai. Tanya saja sama Mas Pariyin (suami mbakyu).
Nunggu malam dulu, nutup warung, gitu loh Mas&#x26;quot; kata Mbakyu menanggapi
omongan Mas Guntur.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ngerti kok. Cuma bercanda. Kita juga
kepingin tapi gak ada lawannya. Lawannya jauh di kampung. Ya terpaksa
nganggur deh&#x26;quot;jawab Guntur yang tentu saja gara-gara omongannya ini
teman-temannya tertawa. Entah mereka menertawakan diri mereka sendiri
atau memang omongan Guntur yang lucu.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ada lagi . Nih punya
teman tapi gak pernah sunnah rasul, padahal tuh anaknya ngerti. Heran
aku kenapa bisa begitu?&#x26;quot; Tiba-tiba Irfan yang paling gendut ngomong.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kamu nyindir aku ya. Kok jadfi aku melulu, kamu sendiri juga
bujangan gitu&#x26;quot; Supri yang sedari tadi diam saja nyerocos ngomong
karewna merasa tersindir.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Saya sih gak nyindir, cuma
ngomong kenyataannya. Buktinya boro-boro punya bini, pacar saja gak
punya. Sementara umur sudah tua. Kalau aku khan masih muda tiap malam
minggu ada yang kuapelin&#x26;quot; jelas Irfan yang emang usianya paling muda
diantara teman-temannya.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;  &#x26;quot;Iya mbak carikan nih temanku pacar, tetangga kampung atau anaknya atau ponakan&#x26;quot; sahut Edi.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;
&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Anakku masih kecil. Ponakan ada tapi jauh di kampung, kalo janda
ada sih tetangga sebelah. Mas Supri suka tipe yang bagaimana sih?&#x26;quot;
jelas Mbakyu yang juga bertanya pada Supri.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Ya sementara
nggak mikirin dulu, mkir kerja cari duit yang banyak. lau punya rumah,
punya mobil, habis itu nikah&#x26;quot; jawab Supri.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x26;quot;Kelamaan Lo.
Keburu mati. Elo itu cuma sopir kagak mungkin bisa jadi orang kaya.
Ngaca dong. Kalo liha