Journals
Wednesday,May 30 2007, 12:26:35 PMsyaharani fever
If flying is about to drop..
I wont stop adoring..
If time would never ever have the last second..
I wont stop adoring
If honesty turns to cover the lie..
I wont stop adoring..
If solar defeats the sun
I wont stop adoring..
If cells have no plasm to cycling
I wont stop adoring
If now is easier to betray
I wont stop adoring
If life is just to kill
I wont stop adoring
If you dance for the last sight
I wont stop adoring
even if i lost what they called "my self"
i still recognize you as my hero
Don’t tell me to
Don’t ask me why
Not to reveal
Not to have an answer
buat : mba rani..all the time..
Tuesday,May 29 2007, 12:09:54 PMkarma
what goes around comes around..
what goes up must come down..
now who's trying...desiring....to come back to me..
it's a karma baby..and it goes around...
Friday,May 25 2007, 01:25:37 PMMATAHARI
kamu tahu waktu yang kulukis dengan resah..?
rasa bukan hitungan yang diandalkan untuk memberi,
aku tak bermain hutang,
tak menginvestasi galau
aku beradu rindu,
mengecap gundah..
menantang matahari..
karena bersinar memberi cahaya,
dan ku melihat matamu..
karena berputar memberi energi,
dan bumi mencipta indah dirimu..
karena tak menyatu dengan langit,
bawalah udara,
ciptakan harapan,
dan aku belum juga merdeka untuk mencinta!
karena kau lah poros,
karena kau membentuk tata surya,
karena kau pusat semesta....
karena kau aku terinfeksi.....
karena kau aku tahu berharap..
dimana kebaikan itu..?
*anger...anger..over n over again*
Monday,May 14 2007, 02:45:19 AMmasa lalu...sebuah jurnal terbelakang..
Melihat masa lalu dan segala kebohodohan yang dulu pernah dilakukan, saya nilai tidak selamanya buruk. Untuk bertahan dan membangun langkah yang tepat, perlu sebuah visi yang jelas agar tidak jatuh di lubang yang sama. Sama sepeti saya yang kembali menemukan foto – foto pribadi ketika menyakiti diri sendiri menjadi jalan yang paling mudah ditemui untuk membawa rasa frustasi. Kulit, silet dan darah. Semuanya diciptakan begitu padannya untuk menimbulkan rasa sakit yang dulu saya cari. Sakit kah..? awalnya ya. Ketika saya semakin mengenali sensasinya, rasa sakit itu perlahan hilang. Bahkan saya lupa sama sekali bagaimana rasanya karena sudah lama tidak pernah melakukannya lagi dan terakhir kali melakukan, saya merasa lebih baik. Sakit itu benar-benar telah hilang dari otak saya.
Pelarian masalah selalu menjadi alasan utama. Masalah seperti apa..? hahaha. Itu selalu membuat saya tertawa sekeras – kerasnya untuk mengusir malu. Masalah yang dihadapi oleh anak berumur 15 atau 16 tahun biasa yang hidup dengan cinta utuh kedua orang tua..butuhkah pelarian yang demikian bodoh..?
Saya kembali lagi melihat berbagai hal yang telah dilakukan setelah ngobrol semalam suntuk di yahoo messenger dengan salah seorang teman saya yang jarang saya temui di sekolah, padahal kami sama – sama kelas tiga, tapi selalu saya temui di dunia maya. Thanks for the technology. Malam – malam saya yang jarang diisii dengan tidur lelap belakangan selalu diisi dengan mendengarkan curahatan hati teman saya ini. Dia dengan segala persoalannya, menjadi anak lelaki tertua di keluarga yang berantakan karena ayahnya yang diam – diam menikah lagi dan berakhir dengan kematian ayahnya itu. Tragis, saya menilai demikian. Untuk ukuran anak sma semacam kami, jelas persoalan yang kompleks. Tidak mudah mendapat saudara tiri baru, apalagi setelah melihat sendiri bagaimana pertengkaran rumah tangga itu terjadi karena adanya perempuan lain di keluarganya serta hadirnya anak lain. Adiknya yang selalu menangis ketika terjadi, serta ketidakpedulian kakak perempuannya yang saat itu sudah menemukan dirinya sendiri. Dia memang menanggung beban sendiri. Sampai saya pada kalimat yang membuat saya salut..”gue harus tanggung jawab ke anak itu..karena gw yang bakal jadi wali kalau dia nikah.” Kalimat yang benar-benar membuat saya salut, setelah dia dengan huruf capital mengatakan “LEBIH BAIK DITINGGAL MATI DARIPADA DITIGGAL CERAI.” Benarkah? Saya tidak tahu. Karena saya hidup dengan orang tua yang utuh. Dia juga bercerita, narkoba memang sempat jadi pelarian masalahnya dan mengakui jalan itu salah. Menghancurkan diri sendiri bukanlah pelarian, malah akan menimbulkan masalah baru. Kopi dan rokok cukup membantunya keluar dari masalah. Dan menjadi skaters adalah pilihan terakhirnya, menjalani youth culture yang lengkap dengan kamar diatas loteng. Sepeti yang selalu saya lihat di film-film barat.
Dia benar – benar telah melempar saya dengan batu untuk lebih menghargai hidup yang saya dapat. Dia bisa dengan sadar memilih jalan yang baik untuk melepas segala masalah, ditengah masalah rumit yang mengurung. Semakin membuat saya malu. Dan perjalanan saya bersama Andrea menuju UI di Depok hari Sabtu kemarin semakin membuat saya lagi – lagi malu dengan kelakuan saya selama ini. Sepanjang jalan menemui pemandangan yang sudah biasa saya lihat, tapi hari itu saya maknai secara beda. Anak – anak dengan tangan menengadah dan remaja – remaja seumuran saya yang mencari nafkah. Dilihat dari cara mereka berpakaian, ketika saya perhatikan dengan seksama untuk pertama kalinya, Bengal memang, sama sekali tidak menarik simpati untuk mengelurakan sedikit uang. Tapi siapa yang telah membentuk mereka untuk memilih jalan tersebut..? apakah orang tua mereka? Yang sama sulitnya dengan mereka untuk mencari uang. Saya rasa bukan pilihan yang bijak kalau harus menjudge pilihan mereka yang salah untuk menjalani hidup seperti itu. Karena saya saja, yang hidup dengan cinta utuh kedua orang tua, memilih pelarian yang salah untuk masalah yang dihadapi. Saya nggak cukup punya kekuatan saat itu untuk menyelesaikan. Apalagi mereka yang hidup mungkin dengan semua masalah, mulai dari ekonomi, sosial, yang serba kekurangan. Masihkah ada pilihan yang lebih layak untuk mereka? Sedangkan untuk bertahan hidup saja sulit. Cara ekstrim mulai ditempuh. Bengal dianggap sebagai pemberontakan. Mungkin juga karena pendidikan serta akses pengetahuan yang terbatas, membuat mereka terkurung dalam pikiran bahwa memberontak harus dengan cara ekstrim yang menyeramkan. Itu berarti pemikiran saya sama dangkalnya dengan mereka. Atau lebih buruk karena menyakiti diri sendiri saya anggap sebagai pelarian yang tepat. Dimana pengetahuan yang selama ini saya agung – agungkan?
Sekarang saya semakin sadar betapa bodohnya saya memilih cara itu untuk melarikan masalah saya yang tidak seberapa dibandingkan mereka. Memang orang tua saya sering memaksa jalur pendidikan formal saya. Sebentar harus ini, sebentar harus itu plus dengan membanding – bandingkan saya dengan sepupu-sepupu saya. Atau mengeluh betapa tidak berimannya saya dibandingkan dengan kakak saya. dan saya selalu berkelit, “aku nggak religius, tapi aku spiritual.” Hal yang selalu menjadi perdebatan antara saya dan orang tua. Mungkin ini bentuk perhatian mereka, kepedulian mereka terhadap saya. Walaupun sering kali bentuk perhatian ini menjadi pertengkaran antara saya dan orang tua, seharusnya saya lebih bisa bersyukur karena masih saya masih diperhatikan. Masih diberi segala fasilitas dan akses untuk pengetahuan. Serta nasib baik untuk segala hal yang saya dapat.
Suatu pilihankah untuk hidup yang lebih baik..? saya kira ya. Tapi jalan untuk mendapatkan pilihan tersebut memang harus kita cari sendiri. Buka selalu pikiran untuk segala hal baru yang masuk karena saya baru saja mendapat pemikiran baru setelah membaca essay mba rani di Kompas..Tuhan selalu up to date..sama seperti hidup kita yang selalu up to date dan menawarkan pilihan – pilhan baru untuk kehidupan.
*missin*..13 mei 2007. sentul, bogor.

