1,463 Page Views
radja sethan's Homepage
 

Gifts

Awww...I have no gifts.
You can be the first to send me a gift!
Send me a gift now!

Albums

Profile

Basic
    Profile Photos

Journals

Sunday,Aug 7 2005, 09:42:20 AMMEDAN SCHOOL ZONE

Basket Gurls SMA Methodist – 2

 

 

h_1113790268

by Ellyn Patricia

Banyak yang bilang kaum adam berada satu level di atas kaum hawa. Eits… hati-hati karena itu belum tentu benar 100 persen. Yeahh… banyak contoh sebagai pembuktian kalau selamanya tidak seperti itu. Salah satunya tim basket cewek Methodist-2. So far, tim ini juga mempunyai segudang prestasi yang tak kalah membanggakan dengan tim cowok. Well, just check this out if you guys don’t believe it!

Belum lama ini mereka menjuarai dua event regional (Hexos and Softex Cup 2004) karena itupula mereka berhak mewakili Medan di tingkat nasional. Hasilnya, menjadi juara empat pada Softex Cup 2004 dan juara tiga Hexos Cup 2003 nasional. Karena prestasi ini pula Ellyn Patricia dari mteens gurls tergelitik untuk menuliskan kiprah cewek-cewek tangguh itu disini.

Story Behind Softex Cup 2004
Dengan bermodalkan lima pemain lama awalnya mereka tak cukup pede bisa mencapai babak final. Apalagi setahun belakangan banyak pemain baru yang minim jam slamdunk di lapangan. Tapi, ternyata dewi fortuna berpihak pada mereka. Mengalahkan tim Santo Thomas 1 di semifinal, and then… menumbangkan tim Sutomo 1 di final. Gelar juara regional pun di tangan.

September lalu mereka berangkat ke Jakarta mengikuti Softex Cup 2004 se-nasional. Di hari pertama mereka kalah 2 poin dari SMA 22 Jakarta. Pada hari kedua menang 4 poin dari SMA Smaven Banjarmasin. Di hari ketiga lagi-lagi berhasil menang 4 poin dari SMA Santa Maria Yogyakarta. Sayangnya di hari keempat mereka harus mengakui keunggulan SMA Muba Palembang dengan kekalahan sebanyak dua poin. Dan perjuangan pun harus berhenti, karena hari keempat tersebut adalah babak semifinal. Methodist 2 lalu menduduki posisi juara 4 nasional.

wins and loses
Sejauh ini, menurut Vivia, kemenangan yang paling membanggakan saat menjadi juara 3 Hexos Cup 2003 se-nasional dengan mengalahkan SMA Santa Maria. Sedangkan kekalahan yang paling disesalkan saat berhadapan dengan SMA Muba Palembang. Kalah 2 poin euy!

Nah, dari sekian banyak lawan tanding tim mana sih yang paling berkesan? “SMA Alloyius Bandung!” kata Vivia. Tim ini memiliki banyak kelebihan, diantaranya didukung dua pemain Kobanita. Karenanya tim Methodist -2 penasaran pengen berhadapan sekali lagi dengan Alloysius. “Pengen buktiin kalau kita juga bisa ngalahin mereka,” kata Vivia lagi. I bet you guys can do it!

Now, Methodist – 2 berharap bisa mencapai prestasi lebih tinggi di masa mendatang. Makanya, gak usah heran sekarang mereka latihan keras sebanyak 3 kali seminggu (Senin, Rabu, Jumat) dan latihan fisik 2 kali seminggu (Selasa dan Sabtu) dengan pelatih Freddy M. Gorey dan asistennya Herlina. Don’t worry, girls ! Gue yakin dengan semua hard work yang telah kalian lakukan, your dreams will come true. Viva Methodist-2.

Line up :
Richa (04), Sri (05), Yenny (06), Jenny (07/ kapten), Riska (08), Paity (09), Vivia Tantono (11/ wakil kapten), Selly (12), Nelly (13), Junni (14), Sally (15), manajer tim : J. Manurung, Sth.

 

SMU HARAPAN

 

 h_1096901146

 

words | ryen amanda & tari (siswi smu harapan)
pics | fitra

Hell… oouww…! Yang namanya anak Medan pasti taulah skool yang terletak di lokasi strategis ini. Abis, selain terletak tak jauh dari bandara Polonia, cewek-ceweknya terkenal cakep-cakep dan modis-modis (nyambung gak?). Tapi, tau belum tentu kenal kan? Oke, here we go! Mungkin, anak-anak seumuranmu ngga banyak yang tau kalau sekolah ini sebenarnya sudah oldskool juga, pertama kali ada pas taon 1969. Masa sih? Penasaran? Makanya, baca aja cerita lengkapnya…

A lil bit history…
Awalnya, SMU Harapan didirikan untuk menampung lulusan SLTP Harapan. Saat pertama berdiri, skool ini cuma punya 1 kelas dengan siswa sebanyak 31 orang, plus 9 guru yang salah satunya menjabat sebagai kepala sekolah! Coba bayangi SMUSHA (anak-anak suka menyebutnya begini) pada jaman itu seperti apa?. Dari taon ke taon makin banyak aja yang ikutan nimbrung ke skool yang sekarang punya gedung bertingkat 4 ini.

Tapi itu dulu. Sekarang, skool ini terkenal sangat gaul dan bahkan sombong! Uppss… banyak loh yang nyangka gitu! But, semua tuh salah banget! Itu gak bener kok, cuma gossip murahan aja kok!. “Serius, buktinya kami-kami ini assik-assik kok,” kata yang nulis artikel ini. Hmmm, SMUSHA merupakan salah satu skool yang menyediakan fasilitas lumayan lengkap. Mulai dari lapangan basket, perpustakaan, lab, mushala, ampe kantinnya yang udah kaya food court! Yummii… kalian pasti bakalan nemuin semua jenis makanan, mulai dari jenis makanan India ampe jenis-jenis Itali dan semuanya sangat lengkap dan dijamin enak banget!.

manja, tapi…
Banyak yang nyangka kalo SMUSHA tuh termasuk salah satu SMU di Medan yang bakalan naikin smua siswanya pas kenaekan kelas! Hahahaha… siapa bilang? “Kami gak akan pernah memandang mau dia anak siapa dan datang dari keluarga mana! Siapapun dia, kalo emang nilai rapornya kurang dari rata-rata dan ditambah kelakuannya di sekolah kacau balau, maaf, kami gak bisa bilang apa-apa,” kata Drs Sofyan Alwi yang udah menjabat jadi Kepsek SMUSHA sejak taon 1999 disambut anggukan guru-guru laen yang jumlahnya dah 40an orang sekarang! Wah… serem juga ni skool…

punya ekskul seabrek
Jangan heran kalo cowo-cowo SMUSHA pada punya bodi yang atletis. Abis, ekskulnya 55 persen menjurus ke urusan sport. Salah satu ekskul yang kondang dan paling dibanggain adalah Paskhas SMU Harapan. Ekskul yang satu ini dah ada lama banget! Banyak alumnus-alumnus SMUSHA yang dikirim ke tingkat nasional dan tingkat daerah untuk jadi pengibar bendera pusaka pas tujuh belasan. Gimana gak oke, ekskul ini sudah dipersiapkan dari tingkat SLTP Harapan. Selain mereka nampil di setiap upacara bendera, ekskul ini juga merupakan latihan bekal buat ntar lulus SMP dimana rekrutmen anggota Paskhas selalu dilaksanain tiap tahunnya. Tentu pasti akan lebih gampang keterima.

Oia, kami juga punya ekskul yang wangi-wangi, hahaha… cheers! Kenalkan, 4U2C (for you to see) namanya! Pemandu sorak yang biasanya nyemangatin cowo-cowo maen basket ini, ternyata ‘dah ada dari taon 1994! Hmm… udah lama juga yah? Makanya banyak alumni SMUSHA dan alumni 4U2C yang ngetop abiz sekarang! Tau dong, kelompok musik asal Medan, IZI Band? Yap, ketiga cewe yang disitu adalah sekian dari banyak alumnus SMUSHA yang dah ngetop namanya.

Pastinya ga cuma Paskhas dan cheers doang dong! Banyak ekskul lain yang ga kalah keren. Sebut saja: teater, paduan suara, mading, basket, sepak bola, futsal, bulu tangkis, tae kwon do dan yang lain. Prestasinya juga gak kalah jempolan kok.

ngetop kok
Berada di bawah Yayasan Pendidikan Harapan skool yang berseberangan dengan Lapangan Ahmad Yani ini dari dulu emang udah ngetop banget! Gak cuma anak-anak Medan kok yang tau! Kota-kota gede kaya Jakarta, Bandung, Jogja… pada tau skool kami ini. Udah gak keitung berapa banyak siswa asal SMUSHA yang masuk ke perguruan tinggi negeri. Malah ada yang nyasar sampe Jerman! Walah, kenalkan Ikhsan Derick Aquari, doi alumnus SMUSHA yang dapat beasiswa kesana. Abis doi emang pinter banget! Derick sebelumnya menjabat Ketua OSIS di SMUSHA! “Ia, kak Decke (sapaan Ikhsan) emang top abiss! Dah cakep, keren, gayanya cool, pinter, banyak yang naksir, ke Jerman lagi! Aku dikasih juga gak nolak! Hehehe…” kata Nisa murid kelas 2C! Duh, kita-kita jadi pengen liat yang mana sih orangnya?

banyak tempat nongkrong lho…
Coba tanya, mana tempat paling fave di skool yang terletak di jalan Imam Bonjol no 95 ini? Pasti mereka kompak jawab: Sudah pasti kantin yang terkenal dengan baksonya dong! Bener deng, baksonya emang sangat enak!

Selain kantin, lapangan basket menjadi tempat fave lain. Apalagi bagi anak-anak ceweknya. Hehehe… anak basket SMUSHA kan emang top abiz! Selaen punya face yang lumayan, mereka juga jago-jago. Jadi, pantas donk cewe-cewe pada pasang mata, lirik kanan-lirik kiri. Selain itu, tempat ajang tepe (tebar pesona) lainnya gerbang depan sekolahan. Biasanya, saat skool bubar langsung deh smua umat menyerbu gerbang depan. Kenapa sih? Abis selain banyak jual makanan, tempat ini cukup strategis buat tepe-tepe. “Disini kan tempat mangkalnya para penjual makanan. So, pas banget tuh buat skalian ngisi perut,” kata Willy yang udah mau jalan setahun ini jadi Ketua OSIS SMUSHA.

happy birthday smu harapan…
Oia, SMUSHA baru-baru ini ngerayain ultahnya ke 37. Tepatnya pada 4 Februari lalu. Biasanya, happy birthday ini dirayain dengan berbagai kegiatan, lomba-lomba kecil atau pentas seni. Terus, setiap 5 tahun sekali birthday skool Harapan ini dirayakan dengan acara LUSTRUM YASPENDHAR. Yang ini pasti bakal ditunggu-tunggu. Oke deh, selamat ultah ke 37 yah! Kita doaian deh biar skool na tambah gaul ‘n okeh!

words | ryen amanda & tari (siswi smu harapan)
pics | fitra

Hell… oouww…! Yang namanya anak Medan pasti taulah skool yang terletak di lokasi strategis ini. Abis, selain terletak tak jauh dari bandara Polonia, cewek-ceweknya terkenal cakep-cakep dan modis-modis (nyambung gak?). Tapi, tau belum tentu kenal kan? Oke, here we go! Mungkin, anak-anak seumuranmu ngga banyak yang tau kalau sekolah ini sebenarnya sudah oldskool juga, pertama kali ada pas taon 1969. Masa sih? Penasaran? Makanya, baca aja cerita lengkapnya…

A lil bit history…
Awalnya, SMU Harapan didirikan untuk menampung lulusan SLTP Harapan. Saat pertama berdiri, skool ini cuma punya 1 kelas dengan siswa sebanyak 31 orang, plus 9 guru yang salah satunya menjabat sebagai kepala sekolah! Coba bayangi SMUSHA (anak-anak suka menyebutnya begini) pada jaman itu seperti apa?. Dari taon ke taon makin banyak aja yang ikutan nimbrung ke skool yang sekarang punya gedung bertingkat 4 ini.

Tapi itu dulu. Sekarang, skool ini terkenal sangat gaul dan bahkan sombong! Uppss… banyak loh yang nyangka gitu! But, semua tuh salah banget! Itu gak bener kok, cuma gossip murahan aja kok!. “Serius, buktinya kami-kami ini assik-assik kok,” kata yang nulis artikel ini. Hmmm, SMUSHA merupakan salah satu skool yang menyediakan fasilitas lumayan lengkap. Mulai dari lapangan basket, perpustakaan, lab, mushala, ampe kantinnya yang udah kaya food court! Yummii… kalian pasti bakalan nemuin semua jenis makanan, mulai dari jenis makanan India ampe jenis-jenis Itali dan semuanya sangat lengkap dan dijamin enak banget!.

manja, tapi…
Banyak yang nyangka kalo SMUSHA tuh termasuk salah satu SMU di Medan yang bakalan naikin smua siswanya pas kenaekan kelas! Hahahaha… siapa bilang? “Kami gak akan pernah memandang mau dia anak siapa dan datang dari keluarga mana! Siapapun dia, kalo emang nilai rapornya kurang dari rata-rata dan ditambah kelakuannya di sekolah kacau balau, maaf, kami gak bisa bilang apa-apa,” kata Drs Sofyan Alwi yang udah menjabat jadi Kepsek SMUSHA sejak taon 1999 disambut anggukan guru-guru laen yang jumlahnya dah 40an orang sekarang! Wah… serem juga ni skool…

punya ekskul seabrek
Jangan heran kalo cowo-cowo SMUSHA pada punya bodi yang atletis. Abis, ekskulnya 55 persen menjurus ke urusan sport. Salah satu ekskul yang kondang dan paling dibanggain adalah Paskhas SMU Harapan. Ekskul yang satu ini dah ada lama banget! Banyak alumnus-alumnus SMUSHA yang dikirim ke tingkat nasional dan tingkat daerah untuk jadi pengibar bendera pusaka pas tujuh belasan. Gimana gak oke, ekskul ini sudah dipersiapkan dari tingkat SLTP Harapan. Selain mereka nampil di setiap upacara bendera, ekskul ini juga merupakan latihan bekal buat ntar lulus SMP dimana rekrutmen anggota Paskhas selalu dilaksanain tiap tahunnya. Tentu pasti akan lebih gampang keterima.

Oia, kami juga punya ekskul yang wangi-wangi, hahaha… cheers! Kenalkan, 4U2C (for you to see) namanya! Pemandu sorak yang biasanya nyemangatin cowo-cowo maen basket ini, ternyata ‘dah ada dari taon 1994! Hmm… udah lama juga yah? Makanya banyak alumni SMUSHA dan alumni 4U2C yang ngetop abiz sekarang! Tau dong, kelompok musik asal Medan, IZI Band? Yap, ketiga cewe yang disitu adalah sekian dari banyak alumnus SMUSHA yang dah ngetop namanya.

Pastinya ga cuma Paskhas dan cheers doang dong! Banyak ekskul lain yang ga kalah keren. Sebut saja: teater, paduan suara, mading, basket, sepak bola, futsal, bulu tangkis, tae kwon do dan yang lain. Prestasinya juga gak kalah jempolan kok.

ngetop kok
Berada di bawah Yayasan Pendidikan Harapan skool yang berseberangan dengan Lapangan Ahmad Yani ini dari dulu emang udah ngetop banget! Gak cuma anak-anak Medan kok yang tau! Kota-kota gede kaya Jakarta, Bandung, Jogja… pada tau skool kami ini. Udah gak keitung berapa banyak siswa asal SMUSHA yang masuk ke perguruan tinggi negeri. Malah ada yang nyasar sampe Jerman! Walah, kenalkan Ikhsan Derick Aquari, doi alumnus SMUSHA yang dapat beasiswa kesana. Abis doi emang pinter banget! Derick sebelumnya menjabat Ketua OSIS di SMUSHA! “Ia, kak Decke (sapaan Ikhsan) emang top abiss! Dah cakep, keren, gayanya cool, pinter, banyak yang naksir, ke Jerman lagi! Aku dikasih juga gak nolak! Hehehe…” kata Nisa murid kelas 2C! Duh, kita-kita jadi pengen liat yang mana sih orangnya?

banyak tempat nongkrong lho…
Coba tanya, mana tempat paling fave di skool yang terletak di jalan Imam Bonjol no 95 ini? Pasti mereka kompak jawab: Sudah pasti kantin yang terkenal dengan baksonya dong! Bener deng, baksonya emang sangat enak!

Selain kantin, lapangan basket menjadi tempat fave lain. Apalagi bagi anak-anak ceweknya. Hehehe… anak basket SMUSHA kan emang top abiz! Selaen punya face yang lumayan, mereka juga jago-jago. Jadi, pantas donk cewe-cewe pada pasang mata, lirik kanan-lirik kiri. Selain itu, tempat ajang tepe (tebar pesona) lainnya gerbang depan sekolahan. Biasanya, saat skool bubar langsung deh smua umat menyerbu gerbang depan. Kenapa sih? Abis selain banyak jual makanan, tempat ini cukup strategis buat tepe-tepe. “Disini kan tempat mangkalnya para penjual makanan. So, pas banget tuh buat skalian ngisi perut,” kata Willy yang udah mau jalan setahun ini jadi Ketua OSIS SMUSHA.

happy birthday smu harapan…
Oia, SMUSHA baru-baru ini ngerayain ultahnya ke 37. Tepatnya pada 4 Februari lalu. Biasanya, happy birthday ini dirayain dengan berbagai kegiatan, lomba-lomba kecil atau pentas seni. Terus, setiap 5 tahun sekali birthday skool Harapan ini dirayakan dengan acara LUSTRUM YASPENDHAR. Yang ini pasti bakal ditunggu-tunggu. Oke deh, selamat ultah ke 37 yah! Kita doaian deh biar skool na tambah gaul ‘n okeh!

Perguruan Sultan Iskandar Muda, Medan

h_1094981311

Sekolah Pembauran dari Sunggal

Pernah dengar istilah pembauran? Pasti sering
kan? Di negara kita, istilah ini kerap digunakan saat membicarakan hubungan sosial antar etnis Tionghoa dan etnis non Tionghoa (misalnya etnis Batak, Jawa, Aceh, Padang, Ambon, Manado, sampai Papua). Tapi, kau pernah dengar ngga dengan yang namanya sekolah pembauran?

Walau sayup, sekolah pembauran yang memiliki siswa-siswi multi etnis yang berbeda agama, sosial dan ekonomi ini benar-benar ada. Salah satunya terletak di Medan, Sumatera Utara, tepatnya di Pekan Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, sekitar 25 kilometer dari pusat kota Medan. Namanya Perguruan Sultan Iskandar Muda (PSIM).

Penasaran juga gimana rasanya sekolah disana.

Sekolah yang memiliki bangunan utama bertingkat tiga ini terletak sekitar 100 meter dari jalan utama Pekan Sunggal. Tak hanya SMU, di sekolah ini juga ada SMK, SMP, SD, dan juga TK! Kebayangkan bagaimana lucunya satu sekolahan dengan anak-anak SD atau TK?

Sekolah ini didirikan pada tahun 1987 oleh dr. Sofyan Tan. Beliau ini adalah seorang tokoh etnis Tionghoa yang gigih memperjuangkan pembauran. Sofyan kecil lahir dan besar di Sunggal. Ia juga berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi dan kerap menyaksikan perlakuan diskriminasi (rasialisme) terhadap etnisnya. “Pemandangan (diskriminasi etnis) seperti itu membuat saya bertekad untuk memperjuangkan pembauran. salah satunya melalui institusi pendidikan,” kata pak Sofyan.

Nama Sultan Iskandar Muda sengaja dipilih karena merupakan Sultan Aceh pertama yang melakukan kontak dagang dengan negeri Cina.

Awalnya, PSIM terletak di atas tanah seluas 1.500 m2 yang dipinjamkan seorang warga Melayu bernama Datuk M. Bahar. Sofyan lalu membangun gedung sekolah dengan modal pinjaman uang sebesar Rp. 20 juta. Pokoknya betul-betul dengan modal cekak!

Saat itu PSIM cuma punya 7 lokal (TK, SD, SMP dan SMA) dan 4 lokal untuk ruang kepala sekolah, guru dan tata usaha. Jumlah guru juga ngepas, 15 orang dengan gaji berkisar Rp. 25.000 – Rp. 40.000. Muridnya dikit, cuma 171 orang dengan komposisi 40% etnis Tionghoa dan 60% non Tionghoa, didominasi warga Sunggal dan berlatarbelakang ekonomi menengah ke bawah.

Waktu berjalan, siswa PSIM terus bertambah. Sofyan lalu mengusahakan berbagai pinjaman tambahan untuk membangun sekolah. Bank lagi-lagi diutangi. Sayang, dapatnya cuma sedikit. Dia lalu mencoba mencari donatur ke Jakarta. Gagal lagi. Tak banyak yang tertarik dengan konsep pembauran. Maklum, masa itu kita masih dalam kungkungan orde baru. Sofyan cuma berhasil membawa duit Rp. 500 ribu perak.

Itu cerita dulu. Sekarang, sekolah ini sudah mentereng. Arealnya pun semakin luas, mencapai sekitar 1 hektar. Fasilitas penunjang pendidikan cukup oke. Laboratorium komputer, biologi, kimia, fisika dan musik sudah punya. Termasuk perpustakaan dengan koleksi buku yang memadai.

Yang lebih keren, di belakang bangunan utama sekolah berdiri sebuah mushala berdampingan dengan sebuah gereja dan sebuah vihara. Wow! “Ini untuk mengajarkan siswa-siswa agar terbiasa melihat perbedaan. Baik tata cara beribadah sampai perbedaan adat istiadat dan budaya. Lewat tata ibadah, siswa akan memperoleh pelajaran etika pergaulan,” ujar Sofyan.

Awalnya, ada kekuatiran saat membangun tiga tempat ibadah tersebut secara berdekatan. Ketakutan seperti pengrusakan, graffiti di dinding tempat ibadah sampai pada pindah agama. Untunglah, semua itu tidak terjadi. Malah, setelah terbiasa melihat perbedaan, siswa-siswi PSIM memiliki empati lebih tinggi. Siswa muslim terbiasa melihat tata cara ibadah temannya yang beragama Budha ataupun Kristen. Begitupula sebaliknya.

Selain ketiga tempat ibadah itu, dibangun sebuah zona netral yang berbentuk pendopo. Fungsinya untuk kegiatan-kegiatan diskusi, ceramah, pentas kesenian (musik, drama atau teater). Diantara pendopo dan ketiga tempat ibadah itu ditanam sepasang pohon bisbul (dyospyos pilippensis) atau pohon mentega yang diambil dari UGM Jogja. Pohon ini cukup unik karena hanya bisa hidup kalau berpasangan. Pohon itu tidak bisa tumbuh kalau hanya ditanam yang betina atau jantan saja. Filosofinya, pohon bisbul mengajarkan siswa PSIM tentang pentingnya hidup bersama. Keren kan?

So, bagaimana sih kondisi sehari-hari hubungan multietnis di PSIM? Disini, siswa beretnis Cina, pribumi asli, dan India bergaul akrab. Ada juga yang berstatus anak asuh. Mereka santai aja jalan berangkulan dan bercanda saling melempar jokes. “Semua bergaul dengan baik. Tak ada yang berbeda meski ada yang berstatus anak asuh. Malah kadang kami tidak tau siapa-siapa saja yang menjadi anak asuh,” sebut Michael W. Sanjaya anak 3 IPS 2.

Menurut cerita Drs Sarmulia Sinaga, Kepala Sekolah SMU, banyak cerita menarik soal hubungan multietnis disana. Bapak bertubuh tegap yang sudah 5 tahun menjabat kepala sekolah ini cerita:

”Yang paling saya ingat dan kadang suka membuat saya tertawa kalau melihat anak-anak yang berlaenan suku berpacaran,” katanya sambil tertawa.

Biasanya, hubungan tersebut menjadi lucu karena banyaknya perbedaan antar mereka. Tapi, dari situ si murid belajar.

“Sampai hari ini kami tidak pernah mendapat kesulitan berarti. Anak-anak tumbuh saling menerima dan menghargai. Jadi bisa dikatakan tidak ada masalah,” kata bapak yang sudah menjadi guru di PSIM sejak tahun 1988.

Saat pelajaran agama, biasanya anak-anak PSIM sering belajar di tempat ibadah masing-masing. “Maksudnya biar pelajaran agama bisa lebih diterima dan meresap dalam diri mereka,” tambah pak Sinaga.

Mau tau dimana tempat fave siswa-siswi PSIM? “Kantin sekolah,” aku mereka. Biasanya, saat jam istirahat, tempat itu riuh rendah. Pendopo juga menjadi tempat lain yang paling digemari untuk nongkrong.

Mteensmagz sempat berkenalan dengan tim futsal PSIM yang memiliki prestasi lumayan. Walau baru ada 6 bulan, tim ini cukup disegani dikalangan siswa SMU di Medan. Mereka pernah menggondol juara 4 kompetisi futsal antar sekolah dan menjadi juara 3 pada kompetisi di SMUN 2 Medan.

“Biasanya kami latihan 3 kali dalam seminggu. Nyambi di lapangan basket,” kata Herry, salah satu anggota ekskul futsal.

Selain futsal, PSIM juga punya ekskul basket, cheers, dance, lipsync, band, musik, komputer dan dokter sekolah. Grup cheerleaders PSIM juga punya prestasi lumayan lho gak kalah dengan tim basket putrinya. Mereka sering langganan the big three dalam kompetisi basket antar sekolahan.

Program Anak Asuh Berantai dan Bersifat Silang (PAABS)
Program ini mulai dirintis sejak tahun 1989. Program ini ditujukan untuk anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi. Tau aja kan, biasanya anak-anak kurang mampu disekolahkan ortu mereka ke sekolah bermutu rendah. Malah, banyak yang tidak bersekolah dan bekerja di sektor informal. Padahal, pendidikan bermutu merupakan salah satu bekal untuk bisa memperbaiki kehidupan ekonomi.

Yang lebih keren, dalam program ini dikenal dengan subsidi silang dengan cara keluarga Tionghoa yang mampu menjadi bapak angkat siswa non Tionghoa yang miskin, dan keluarga non Tionghoa menjadi bapak angkat siswa Tionghoa yang gak mampu. Sistem ini diharapkan bisa menghilangkan sekat-sekat psikologis antar etnis dan generasi.

Menurut Mbak Rini Asfia Tanjung, koordinator PAABS saat ini ada sekitar 75 orang anak asuh di PSIM. Dari jumlah itu, 20 orang anak asuh di SMU dan 27 orang di SMK.

Gimana sih cara perekrutannya? Seperti yang dijelaskan Rini, tim kerjanya setiap tahun membuka pendaftaran di lingkungan Sunggal. Sayangnya, jumlah anak asuh yang akan ditampung cukup terbatas karena sekarang ini sangat minim jumlah orang tua asuh. “Apalagi baru-baru ini ada orangtua asuh yang memutuskan berhenti menjadi orang tua asuh,” kata Rini lirih.

Setelah formulir pelamar diterima tim PAABS melakukan investigasi (survei), testing penerimaan dan wawancara untuk menseleksi calon anak asuh. Sekaligus sebagai recheck data-data tertulis yang dikirimkan peminat. Tim juga berkunjung ke rumah si anak sekaligus untuk melihat kondisi perekonomian keluarga si anak, termasuk status rumah dan seisi rumahnya.

Karena seluruh proses panjang ini pula Rini jadi sangat dekat dengan kalangan siswa anak asuh. Sekali sebulan mereka mengadakan pertemuan untuk membicarakan berbagai hal. Terutama soal prestasi siswa di sekolah. “Selain itu, anak-anak juga suka curhat soal masalah pribadi atau pacaran mereka,” kata Rini lagi.

Anak yang lolos seleksi awal kemudian diundang untuk mengikuti test tertulis seperti EBTA. Proses ini sekarang cukup ketat,” Kalau dulu asal dari keluarga susah langsung diambil saja,” jelas Rini. Biasanya, seluruh proses ini memakan waktu sekitar 1,5 bulan sampai selesai.

Nah, setelah proses seleksi data-data dan administrasi siswa yang terpilih kemudian dikirimkan ke orang tua asuh. Biasanya, orang tua asuh memilih sendiri anak-anak yang akan dijadikan anak asuhnya. Penasaran berapa sih biaya yang ditanggung para orang tua asuh itu? Gak terlalu banyak, berkisar sekitar Rp. 1,5 juta dan itu sudah termasuk uang sekolah dan biaya buku pelajaran. Berminat menjadi orang tua asuh? Siapa tau kan?

KOMENTAR ANAK ASUH DI PSIM
Herman Cahyadi (etnis Cina), 18 tahun, mantan kelas 3 IPA 1
Cowok berkacamata ini cerita, dia tahu soal program anak asuh dari abangnya yang juga sekolah disana. Anak ketiga dari enam orang bersaudara ini berkisah, sekolah di PSIM cukup assik. “Disini gak dikenal yang namanya diskriminasi, seperti membeda-bedakan teman,” katanya bersemangat. Herman menjadi anak asuh sejak kelas 1 SMU dan memiliki prestasi cukup oke, selalu bertengger di posisi 3 besar setiap kali pembagian raport..

Marlina Batubara (etnis Batak Mandailing), 18 tahun, mantan kelas 3 IPA 1
Cewek berkulit putih ini menjadi anak asuh sejak naek kelas 2. Soalnya, saat masuk kelas 1 dulu, Marlina terlambat mendaftar. “Pendaftaran anak asuh keburu ditutup,” ujarnya. Anak kedua dari empat bersaudara ini bilang sekolah PSIM cukup oke. “Disini semuanya sama. Tidak pernah membeda-bedakan suku, ras, agama, ataupun latarbelakang (ekonomi). Teman-temanku juga cuek aja kok, walau mereka tau aku termasuk anak asuh,” kata cewek yang hobby baca komik ini.

Jumiati, 18 tahun (Etnis Jawa), 18 tahun, mantan kelas 3 IPS 1
“Sekolah disini sangat enak. Aku bisa punya banyak teman. Walau pada awalnya aku sempat takut karena siswa disini multi etnis. Eh, ternyata aku malah jadi banyak tahu soal etnis lain,” kata cewek yang tinggal di Desa Kelambir V, Kabupaten Deli Serdang.

Di tempat asal Jumiati warga desa didominasi warga etnis Jawa. Makanya gak usah heran banyak bermunculan pikiran stereotip tentang etnis lain. Misalnya, etnis Batak itu biasanya sangar, kasar, kejam, dan mengerikan. Tapi, setelah berteman dengan siswa etnis Batak dan etnis lainnya Jumiati jadi tidak berpikiran seperti itu lagi.

“Ternyata, selama ini aku salah,” katanya sambil tertawa.

Pengetahuan baru itu kemudian disebarkannya ke penduduk tempat asalnya. Yah, cewek yatim piatu yang sekarang tinggal bareng neneknya ini menjadi agent of change (agen perubahan) di tempat asalnya. Jumi beruntung bisa mengenal orang tua asuhnya yang selalu datang setiap perayaan ulangtahun sekolah. “Orang tua asuh saya cukup perhatian,” tambahnya.

Sunday,Aug 7 2005, 09:26:05 AMINFO MEDAN (FOOD BEVERAGES)

Mengintip Segudang Jajanan Medan Yang Lezat

sotomedanjl

Medan dan daerah sekitarnya merupakan pusat jajanan impian para tukang makan. Karena di sana tergelar aneka hidangan khas Melayu, Batak, bahkan juga hidangan dari luar negeri yang sudah "diakui" sebagai hidangan khas Medan. Rasanya, sungguh rugi kalau Anda mampir ke Medan tanpa mencicipi beberapa hidangan yang kami gelar di sini. ...

Read More...

Guestbook

8/22/2005 11:00 AM

radjasethan
radja 33, Indonesia
terimakasih kembali...:)

8/6/2005 2:42 PM

Galulu
Galuh 19, Jakarta, Indonesia
Thanks for adding me :)

8/6/2005 6:33 AM

AucklandGirl
Stephanie 18, North Shore, Indonesia
THANKS FOR ADDING ME! COME AND GIVE ME A NOTE THANKS (ACTUALLY A GUESTBOOK NOTE LOL)
Post Comment
Subject:
Body: